Slide # 1

Slide # 1

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 2

Slide # 2

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 3

Slide # 3

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 4

Slide # 4

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 5

Slide # 5

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Pages

Sabtu, 25 Oktober 2014

SELESAIKAN TUGAS DENGAN INTERNET TRANSFER


            Assalamualaikum. Wr.wb,
            Insyaallah, semakin berkembanganya dunia iptek ( teknologi ) ini dapat kita nikmatin bersama sekaligus menggunakannya.       Kami ingin memberitahukan kepada anda yang ingin selalu menjalin hubungan kerjasama dengan siapapun bias melalui internet googling. Contohnya dengan blog, twitter, fb, linken, web, dll.
            Kami selaku pembuat blog pekerjaan online mempunyai ide untuk membuka tugas kita dapat selesai hanya melalui internet baik yang banyak maupun sedikit , yang sempat dikerjakan maupun yang sibuk, yang rumit maupun yang mudah, semua itu bisa teratasi bila kita menjalin kerja sama.
            Sebelum kami jabarkan pekerjaan kami, kami ulas terlebih dahulu biodata kami :
Nama saya : tuhu setyono TTL : sosa, 25 mei 1993, alamat : desa sontang, kecamatan bonai Darussalam, kabupaten rokan hulu , no hp : 082387368686/085374740919 email saya : tuhu.okelah@gmail.com. Biodata tersebut benar saya buat untuk memudahkan anda hubungi saya nantinya.
            Selanjutnya akan kami bahas kembali, yang pertama kami menyediakan layanan tugas kelar internet dengan memberikan kepada anda yang sebagai consumen/orangyang memiliki tugas tersebut, kami meminta kepada anda agar bias mengirimkan tugas anda ke email pribadi saya : tuhu.okelah@gmail.com atau ke email produsen sukses@plazarprint.co.id seterusnya kami akan membantu pekerjaan anda, dan insyaallah kami akan menyiapkan tugas anda beberapa hari , setelah tugas selesai kami mohon anda mengirimkan biaya untuk kami, yang jelas kami tidak akan menuliskan berapa uangnya kami harap anda sendiri yang paham dengan kami. Sebagian uang yang anda berikan ke  kami sebagian lagi apabila situs dan pekerjaan kami berjalan lancer kami akan berbagi dan mendirikan panti jompo di daerah kami tersebut yang jauh dari kota.
            Insyaallah, tulisan ini buka hanya sekedar main-main namun benar-benar terlaksana. Karna kami membutuhkan biaya untuk melanjutkan s2 ( master manajemen pendidikan )yang sekarang 2014 kami masih belajar di s1 ( pendidikan matematika ) di universitas pasir pengaraian. Saya punya cita-cita, anda punya pekerjaan belum kelar, saya punya kemampuan anda punya kesibukan , apa salahnya anda mencoba memberikan tugas itu ke kami dan tugas selesai anda bias mengirimkannya ke rekening kami dalam rangka pembayarannya. No rekening akan kita kirimkan melalui email : tuhu.okelah@gmail.com .

            Audhubillah himinasyaitonirrojim. Bismillah hirohmannirohhim. Ya allah pekerjaan saya halal. Bantu lah kami dan buatlah kami saling silaturrahmi antar sesame, serta dapat membuat suatu komunitas friendly, teman seilmu pengetahuan 

Jumat, 14 Februari 2014

BAB 1 SKRIPSI MATEMATIKA



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Matematika adalah salah satu pelajaran dasar yang harus dipelajari oleh setiap siswa karena matematika ini adalah ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern dan juga dapat mengembangkan daya pikir manusia. Guru sebagai pendidik harus mampu mendidik dan mengembangkan pola pikir siswa dengan baik sehingga tujuan Pendidikan Nasional dapat tercapai. ”Tujuan Pendidikan Nasional yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi Warga Negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”.[1]
Pemerintahpun berusaha meningkatkan mutu pendidikan termasuk mutu pendidikan matematika yaitu meningkatkan kualitas guru dengan mengadakan seminar, pelatihan, menambah sarana dan prasarana pendidikan di sekolah serta merevisi kurikulum dari tahun ke tahun. Hal senada pun telah dilakukan oleh SMPN 1 Tanjung Emas, namun berdasarkan kenyataan di lapangan menunjukkan kondisi lain. Misalnya hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN 1 Tanjung Emas masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini: 

Tabel 1. Persentase Nilai Matematika Siswa Kelas VIII Tahun Pelajaran 2009/2010 Saat Kelas VII Semester 2 Tahun Pelajaran 20082009
No
Kelas
Jumlah Siswa
Penyebaran Nilai Siswa (%)
< 60
≥ 60
1
VIIIa
27
24
88,89
3
11,11
2
VIIIb
26
23
88,46
3
11,54
3
VIIIc
25
20
80,00
5
20,00
4
VIIId
27
25
92,59
2
   7,41
Sumber : Guru Matematika SMPN 1 Tanjung Emas
Berdasarkan tabel di atas, terlihat dari nilai semester matematika siswa bahwa sedikit sekali siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 60.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran matematika di sekolah tersebut pada Tanggal 17 Maret 2009 diketahui bahwa guru matematika telah berupaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika di kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas salah satunya dengan metode ceramah dan pemberian tugas, tetapi cara tersebut masih kurang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa  adalah kurangnya motivasi dan aktivitas siswa. Dimana pembelajaran lebih banyak di dominasi oleh guru (kurangnya interaksi antar siswa-guru, siswa-siswa), dimana guru mentransfer ilmu kepada siswa, kemudian siswa mendengarkan, memperhatikan dan mencatat materi yang diberikan guru. Kegiatan yang seperti itu dapat disimpulkan bahwa siswa pasif. Disamping itu, juga diketahui dari hasil wawancara peneliti pada hari yang sama dengan beberapa siswa  mereka menyatakan bahwa pelajaran matematika kurang disenangi karena mereka tidak mengerti pelajaran matematika sehingga pelajaran matematika menjadi pelajaran yang ditakuti oleh siswa. Selain itu di dalam belajar matematika di SMPN 1 Tanjung Emas siswa lebih berani bertanya kepada teman sebayanya yang memiliki kemampuan akademik yang lebih tinggi daripada bertanya kepada guru matematika. 
Berdasarkan permasalahan di SMPN 1 Tanjung Emas di atas, maka guru matematika harus menciptakan suatu metode yang menarik dan disenangi oleh siswa sehingga mereka menjadi menyukai pelajaran matematika. Oleh karena itu, diperlukan suatu solusi untuk mengatasi masalah tersebut, solusi yang dapat digunakan adalah dengan bantuan tutor sebaya. Dimana dalam proses pembelajaran matematika siswa belajar dalam kelompok kecil yang nantinya dibimbing oleh tutor (temannya) yang memiliki kemampuan akademik yang lebih  tinggi dari mereka. Untuk bisa menerapkan pembelajaran dengan bantuan seorang tutor maka peneliti menggunakan sebuah model pembelajaran yaitu model kooperatif. Model pembelajaran kooperatif menuntut kerjasama siswa dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan, dan hadiah.
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu dilakukan penelitian di SMPN Tanjung Emas dengan judul “ Penerapan Bimbingan Tutor Sebaya Dalam Pembelajaran Matematika di Kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas Tahun Pelajaran 2009/2010 “.
                       


B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diungkapkan di atas, maka permasalahan dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.      Hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas rendah.
2.      Pembelajaran matematika yang masih monoton atau berpusat pada guru.
3.      Aktivitas siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas dalam pembelajaran matematika rendah.
4.      Siswa lebih berani bertanya pada temannya yang lebih pandai daripada bertanya pada guru.

C.    Pembatasan Masalah
Mengingat berbagai keterbatasan yang peneliti miliki dan agar terpusatnya pembahasan ini maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti yaitu hasil belajar matematika dan aktivitas siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
1.      Apakah bimbingan tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas?
2.      Apakah hasil belajar matematika siswa yang menggunakan bimbingan tutor sebaya lebih baik daripada hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional di kelas VIII SMP N 1 Tanjung Emas?

E.     Asumsi
Penelitian ini dilakukan dengan berpegang pada asumsi, yaitu :
  1. Siswa mampu menerapkan pembelajaran dengan bimbingan  tutor sebaya.
  2. Nilai yang diperoleh pada akhir penelitian mencerminkan kemampuan akademis belajar matematika siswa.

F.     Pertanyaan Penelitian dan Hipotesis
1.      Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah bagaimana dampak bimbingan tutor sebaya dalam belajar kelompok terhadap aktivitas belajar matematika siswa di kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas?
2.      Hipotesis dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas dengan bimbingan tutor sebaya dalam belajar kelompok lebih baik dari hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas dengan pembelajaran konvensional. 
 
G.    Definisi Operasional
Supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami judul skripsi ini, maka peneliti akan menjelaskan beberapa istilah di bawah ini:
Bimbingan  pembelajaran tutor sebaya adalah bantuan yang diberikan kepada siswa atau peserta didik sehingga dapat mencapai prestasi belajar secara optimal. Bimbingan ini dilakukan oleh satu orang tutor kepada teman-temannya dalam belajar kelompok. Apabila ada temannya yang kurang paham dengan suatu materi maka tutorlah yang membimbing mereka.
Tutor sebaya adalah seseorang yang ditunjuk oleh guru untuk membantu mengajarkan pelajaran matematika kepada temannya dalam suatu kelompok yang terdiri dari 3-5 orang yang memiliki prestasi yang lebih tinggi dari anggota kelompoknya. Tutor ini tidak hanya pintar di bidang akademik tetapi juga pintar emosional. Pintar emosional disini maksudnya adalah tutor harus sabar dan paham dengan rekan-rekannya. Apabila tutor telah menjelaskan materi kepada rekan-rekannya tetapi mereka masih belum mengerti, maka tutor harus sabar terhadap situasi yang seperti ini, sedangkan guru matematika berupaya membimbing dan mengarahkan mereka untuk memahami materi tersebut. 
Pembelajaran matematika adalah suatu pembelajaran  yang seyogianya mengoptimalkan keberadaan dan peran siswa sebagai pembelajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir, berbuat dan menyimpulkan sendiri apa yang telah dipelajarinya. Matematika ini adalah ilmu yang terstruktur yaitu mempelajari tentang pola keteraturan dan struktur yang terorganisasikan.[2] Hal itu dimulai dari unsur-unsur yang tidak terdefenisikan, kemudian kepada unsur yang terdefenisikan.


H.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui dampak bimbingan dengan tutor sebaya dalam belajar matematika terhadap aktivitas siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas.
2.      Mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa yang menggunakan bimbingan tutor sebaya lebih baik daripada hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional di kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas.

I.       Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna untuk:
1. Sumbangan pemikiran dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan matematika di masa yang akan datang.
2.      Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh guru bidang studi matematika bagi pelaksanaan pengajaran yang merupakan tugas utamanya. Dengan adanya informasi tersebut diharapkan guru dapat lebih memvariasikan metode pembelajaran agar para siswa akan lebih aktif dan berinteraksi dengan temannya.
3.      Bahan pertimbangan bagi guru untuk menerapkan pembelajaran tutor teman sebaya sebagai alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah.


J.   Metodologi Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Berdasarkan masalah yang peneliti paparkan sebelumnya, maka jenis penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian eksperimen. Penelitian dengan pendekatan eksperimen adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat[3].

2.      Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan the Static Group Comparison, dimana untuk kelas eksperimen adalah kelas yang mendapatkan perlakuan dengan bimbingan tutor sebaya sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang mendapatkan perlakuan dengan pembelajaran konvensional. Menurut Suryabrata desain penelitian Randomized Control Group Only Design dapat digambarkan seperti berikut :
Tabel 2. Bagan Desain Penelitian[4]

Kelas Sampel
Perlakuan
Tes
Kelas Eksperimen
X
T
Kelas Kontrol
-
T

Keterangan :
X : Pembelajaran dengan bimbingan tutor sebaya
T : Tes hasil belajar


3.      Populasi dan Sampel
a.      Populasi
Riduwan mengartikan populasi adalah keseluruhan dari kharakteristik atau unit hasil pengukuran yang menjadi objek penelitian.[5] Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas VIII SMP N 1 Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar Tahun Ajaran 2009/2010. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 3. Jumlah Siswa Kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas Tahun  Pelajaran 2009/2010

No
Kelas
Jumlah Siswa
1
VIIIa
27
2
VIIIb
26
3
VIIIc
25
4
VIIId
27
Sumber: (Guru SMP N 1 Tanjung Emas)
b.      Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil dengan cara yang representatif dari populasi[6]. Sampel yang dipilih dalam penelitian haruslah representatif yang menggambarkan keseluruhan karakterisrik dari suatu populasi. Maka butuh teknik sampling yang tepat untuk mendapatkan sampel yang benar.
Berdasarkan permasalahan yang akan diteliti dan metode penelitian yang digunakan, maka dibutuhkan dua kelas sebagai sampel yaitu untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk menentukan teknik sampling yang akan digunakan dengan melakukan  langkah-langkah sebagai berikut :
1)      Mengumpulkan nilai ujian matematika siswa kelas VIII saat kelas VII Semester 2 Tahun Pelajaran 2008/2009. Setelah itu dikelompokkan berdasarkan kelasnya yang sekarang yaitu kelas VIII A sampai VIII D. Dapat dilihat pada lampiran I.
2)      Melakukan Uji Normalitas populasi terhadap nilai semester 2  kelas VII yang telah dikelompokkan berdasarkan kelas VIII yang sekarang tahun pelajaran 2009/2010 SMPN 1 Tanjung Emas. Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi normal atau tidak.
Hipotesis yang diajukan adalah:
Ho = Populasi berdistribusi normal
H1 = Populasi berdistribusi tidak normal

Langkah-langkah dalam menentukan uji normalitas ini yaitu:
a)      Menyusun skor hasil belajar siswa dalam suatu tabel skor, disusun dari yang terkecil sampai yang terbesar.
b)      Mencari skor baku dan skor mentah dengan rumus sebagai berikut:
 
Keterangan :
S = Simpangan Baku               Skor rata-rata
Xi = Skor dari tiap siswa

c)      Dengan menggunakan daftar dari distribusi normal baku dihitung peluang :
                                                      
d)     Menghitung jumlah proporsi skor baku yang lebih kecil atau sama  yang dinyatakan dengan S() dengan menggunakan rumus :
                                                                           
e)      Menghitung selisih antara F() dengan S() kemudian tentukan harga mutlaknya.
f)       Ambil harga mutlak yang terbesar dan harga mutlak selisih diberi simbol ,  = Maks  F() –S().
g)      Kemudian bandingkan   dengan nilai kritis L yang diperoleh dan daftar nilai kritis untuk uji Liliefors pada taraf α yang dipilih, yang ada pada table pada taraf nyata yang dipilih. Hipotesis diterima jika   .

Kriteria pengujiannya :
(1)   Jika  <  berarti data sampel berdistribusi normal.
(2)   Jika  >  berarti data sampel tidak berdistribusi normal.[7]


Uji ini juga menggunakan bantuan softwere minitab dengan uji Anserson-Darling. Jika masing-masing kelas terlihat pencaran titik-titik pada grafik berada dekat dengan garis lurus dan P-value >  maka populasi berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji normalitas masing-masing kelas, terlihat bahwa pencaran titik-titik pada grafik berada dekat dengan garis lurus dimana  = 0,05. Rata-rata  dan P-value dari kelas populasi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel  4. : Rata-Rata dan P-Value Kelas Populasi
Kelas
VIII.A
VIII.B
VIII.C
VIII.D
Rat-Rata
42,19
43,66
47,97
42,80
P-Value
0.191
0.585
0.474
0.175

Jadi dapat disimpulkan bahwa pupulasi berdistribusi normal, karena nilai P-Value masing-masing kelas populasi tersebut besar dari taraf nyata yang ditetapkan ( = 0,05). Dapat dilihat pada lampiran II
3)      Melakukan uji homogenitas variansi dengan uji Bartlett. Uji ini bertujuan untuk melihat apakah populasi mempunyai variansi yang homogen atau tidak.
Hipotesis yang diajukan yakni:
Ho = Keempat populasi mempunyai varians yang sama
H1 = Keempat populasi mempunyai varians yang tidak sama
Untuk menentukan uji homogenitas ini dilakukan dengan beberapa langkah:
a)      Hitung k buah ragam contoh s1, s2, …sk dari contoh-contoh berukuran n1, n2, ...nk dengan
           
b)      Gabungkan semua ragam contoh sehingga menghasilkan dugaan gabungan:
           
c)      Dari dugaan gabungan tentukan nilai peubah acak yang mempunyai sebaran Bartlett:

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
Jika b ≥ bk (a;n) berarti homogen
Jika b < bk (a;n) berati tidak homogen.[8]


Uji ini juga menggunakan bantuan softwere minitab dengan uji Bartlet. Dari chart yang diperoleh dapat dilihat bahwa selang kepercayaan variansi masing-masing kelas dalam populasi beririsan dan P-valuenya lebih besar dari taraf nyata (= 0,05). Dapat disimpulkan bahwa variansi populasi homogen. Dapat dilihat pada lampiran III.
4)      Melakukan analisis variansi untuk melihat kesamaan rata-rata populasi. Analisis ini bertujuan untuk melihat apakah populasi mempunyai kesamaan rata-rata atau tidak. Uji ini menggunakan teknik anava satu arah[9] yaitu:
Hipotesis yang diajukan adalah:
Ho :
H1 : 

Langkah-langkah untuk melihat kesamaan rata-rata populasi yaitu:
a)      Tuliskan hipotesis nol Ho bahwa
b)      Pilih hipotesis tandingan H1 yang sesuai dari salah satu
c)      Pilih taraf keberartian berukuran
d)     Pilih uji statistik yang sesuai dan tentukan daerah kritisnya. (Bila keputusan akan didasarkan pada suatu nilai-P maka tidaklah perlu menyatakan daerah kritis)
Uji statistik yang sesuai sebagai dasar patokan keputusan ialah peubah acak . Pembakuan akan memudahkan dan disini menyangkut peubah acak Normal Baku Z, yaitu:
           
e)      Hitunglah nilai uji statistik dari data sampel
f)       Kesimpulan: Tolak H0 bila uji statistik tersebut mempunyai nilai dalam daerah kritis (atau, bila nilsi-P hitungan lebih kecil atau sama dengan taraf keberartian yang ditentukan) sebaliknya, terima H0.

Analisis variansi satu arah dilakukan juga dengan bantuan softwere minitab. Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa setiap garis yang dihasilkan oleh masing-masing rataan saling beririsan dan P-value juga lebih besar dari taraf nyata (= 0,05) yaitu sebesar 0.651. Sehingga dapat disimpulkan bahwa populasi memiliki rata-rata yang sama. Dapat dilihat pada lampiran III.
5)      Jika populasi berdistribusi normal, mempunyai variansi yang homogen serta memiliki kasamaan rata-rata, maka diambil sampel dua kelas secara loting dan yang terambil pertama adalah kelas ditetapkan sebagi kelas eksperimen yaitu kelas VIIIc dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang dan kelas yang terambil kedua adalah kelas yang ditetapkan sebagai kelas kontrol yaitu kelas VIIId dengan jumlah siswa sebanyak 27 orang. Jika diperoleh populasi tidak berdistribusi normal, atau tidak homogen maka pengambilan sampel yang digunakan yaitu selain random atau acak yaitu salah satunya dengan cara Sampling Bertujuan (Purposive Sampling), yaitu teknik sampling yang digunakan oleh peneliti yang mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu didalam pengambilan sampelnya.

4.  Variabel dan Data
a.      Variabel
Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari :
1)      Variabel bebas  adalah perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen yaitu penerapan  bimbingan tutor  sebaya.
2)      Variabel terikat adalah hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan bimbingan tutor sebaya

b.      Data
Data adalah hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta ataupun angka. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder yaitu :
1)      Data primer yaitu data yang langsung diambil dari sampel yang diteliti. Dalam hal ini data primer yaitu data hasil belajar matematika siswa dengan bantuan tutor sebaya  dan data aktivitas belajar matematika siswa dengan bantuan tutor sebaya
2)      Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari orang lain. Dalam hal ini data sekundernya adalah nilai mentah hasil ujian semester 2 kelas VII mata pelajaran matematika tahun ajaran 2008/2009 dan data tentang jumlah siswa beserta nama masing-masing kelas pada kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas tahun pelajaran 2009/2010.

c.       Sumber Data
1)      Seluruh siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas Tahun Ajaran 2009/2010 yang terpilih sebagai sampel untuk memperoleh data primer.
2)      Guru matematika SMPN 1 Tanjung Emas memperoleh data siswa kelas VIII yang terdaftar pada tahun pelajaran 2009/2010

5.      Prosedur Penelitian
Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi atas tiga bagian yaitu :
a.      Tahap Persiapan
1)      Menentukan populasi dan sampel
2)      Menetapkan kelas eksperimen dan kelas kontrol.
3)      Menetapkan jadwal penelitian
Penelitian ini berlangsung selama  2 minggu di SMPN 1 Tanjung Emas. Dimulai dari tanggal 21 Juli sampai dengan 31 Juli 2009.
4)      Mempersiapkan perangkat pembelajaran (RPP, media) dan LKS untuk kelas VIIIc dengan materi bentuk aljabar.
5)      Mempersiapkan instrument penelitian berupa soal tes akhir yang diberikan pada akhir pokok bahasan, soal ini divaliditasi oleh dosen dan guru matematika
6)      Mempersiapkan lembar observasi
7)      Menetapkan observer. Dimana observer disini adalah guru matematika
8)      Melaksanakan uji coba. Uji coba soal tes akhir dilakukan di MTSN Pasie Laweh Kecamatan Sungai Tarab.

b.      Tahap Pelaksanaan
Proses pembelajaran di kedua kelas dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda. Untuk kelas eksperimen menggunakan metode pambelajaran dengan bantuan bimbingan tutor sebaya, sedangkan untuk kelas kontrol menggunakan metode dengan pembelajaran konvensional.
Untuk lebih jelasnya pada tahap ini dilaksanakan beberapa kegiatan sebagai berikut:
1)      Kelas Eksperimen
a)      Persiapan
b)      Pelaksanaan
Pelaksanaan penelitian ini berlangsung selama 5 kali pertemuan yaitu tanggal  23, 24, 27, 30, 31 Juli 2009. Tanggal 23 sampai tanggal 30 Juli 2009 digunakan untuk melaksanakan pembelajaran dengan bantuan tutor sebaya dalam kelompok belajar serta melihat aktivitas siswa selama pembelajaran kelompok berlangsung. Sedangkan tanggal 31 Juli 2009 digunakan untuk memberikan tes akhir pada kedua kelas sampel, satu pertemuan selama 2 jam pelajaran yaitu 80 menit. Dimana Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dilakukan selama penelitian adalah:
(1)   Pendahuluan (5 Menit)
(2)   Kegiatan Inti (70 Menit)
(a)    Guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa (15 menit)
(b)    Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok secara heterogen (memiliki akademik tinggi, sedang dan rendah) yang beranggotakan 5 orang
(c)    Guru memberikan LKS kepada siswa
(d)   Siswa berdiskusi dalam mengerjakan LKS dengan bimbingan tutor sebaya dalam kelompok belajar (40 menit)
(e)    Dalam mengerjakan LKS, siswa yang ditunjuk sebagai tutor oleh guru membantu siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan LKS tersebut.
(f)     Guru mendampingi dan membimbing siswa dalam mengerjakan LKS.
(g)    Setelah waktu yang diberikan untuk mengerjakan  LKS selesai, maka apabila ada siswa yang masih kurang mengerti dengan penjelasan tutor dalam kelompoknya, maka guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menjawabnya. (10 Menit)
(h)    Jika tidak ada kelompok lain yang bisa menjawabnya, maka guru membimbing dan mengarahkan mereka untuk bisa menyelesaikan  materi tersebut. (5 Menit)
(i)      Guru memberikan penghargaan / reward kepada siswa / kelompok yang pantas mendapatkannya.

(3)   Penutup (5 Menit)
Guru menutup pelajaran dan memberikan tugas baca kepada siswa-siswa untuk materi yang akan datang.  

2)      Kelas Kontrol
a)      Pendahuluan (10 Menit)
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa.  
b)      Kegiatan Inti (70 Menit)
(1)         Guru menjelaskan materi pelajaran secara umum di depan kelas
(2)         Siswa mencatat materi yang telah dijelaskan oleh guru
(3)         Guru memberikan contoh soal yang berkaitan dengan materi hari itu.
(4)         Guru memberikan latihan kepada siswa
(5)         Siswa membuat latihan (pembelajaran secara konvensional).
(6)         Setelah siswa membuat tugas guru bersama siswa merangkum materi hari itu.
(7)         Guru memberikan tugas baca untuk materi pada pertemuan besok dan PR kepada siswa

c.       Tahap Penyelesaian
Memberikan tes akhir pada kedua kelas, di mana pada kelas eksperimen telah dilaksanakan  tutor sebaya. Dan pada kelas kontrol dilaksanakan pembelajaran konvensional dilakukan oleh guru saat pembelajaran matematika di  kelas VIII SMP N 1 Tanjung Emas.

6.      Instrument Penelitian
Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan beberapa instrument penelitian yaitu: Lembar Kerja Siswa (LKS), lembar observasi, dan tes akhir. Untuk lebih rincinya instrument penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:
a.      Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar kerja siswa (LKS) digunakan untuk membimbing siswa dalam memahami materi hari itu. LKS tersebut berisi sedikit penjelasan materi dan soal-soal latihan. LKS diberikan kepada kelas eksperimen. Sebelum LKS dapat digunakan oleh peneliti dalam penelitian, sebelumnya sudah divalidasi oleh Dosen dan guru matematika SMPN 1 Tanjung Emas.


b.      Lembar Observasi
Lembar observasi digunakan untuk pengamatan sikap, aktivitas dan kegiatan masing-masing siswa dalam belajar matematika dengan bantuan tutor sebaya dalam belajar kelompok selama proses penelitian dilakukan. Dalam penyusunan lembaran observasi digunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Menentukan indikator-indikator penelitian terhadap aktivitas belajar siswa yang diamati selama pembelajaran berlangsung.
2)      Merancang lembaran observasi yang digunakan.
3)      Memvalidasi lembaran observasi yang akan digunakan, dimana hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah lembaran observasi yang akan digunakan oleh peneliti sudah layak atau belum digunakan.
Indikator aktivitas yang peneliti lihat dalam penelitian ini adalah:
Tabel 4. Indikator-Indikator Aktivitas Siswa

No
Jenis Aktivitas
Indikator
1
Visual Activities
Memperhatikan penjelasan   guru
2
Oral Activities
a.       Mengajukan pertanyaan   kepada temannya (tutor) jika tidak paham dalam kelompok.
b.      Menyampaikan ide atau gagasan kepada tutor dalam menyelesaikan LKS dalam kelompoknya.

3
Writing Activities
Siswa mencatat materi  yang disampaikan oleh tutor dan guru

4
Mental Activities
Kemampuan siswa dalam mengerjakan LKS dalam kelompoknya dengan bantuan tutor sebaya

Lembar observasi ini diisi pada setiap kali pertemuan oleh seorang observer.  Lembaran observasi ini dilihat seberapa jauh peningkatan atau penurunan aktivitas siswa dalam belajar matematika dengan bantuan tutor sebaya dalam kelompok belajarnya.   

c.       Tes
Soal yang diujikan untuk tes akhir dibuat dalam bentuk essay dengan materi Bentuk Aljabar. Untuk mendapatkan kualitas soal yang baik maka dilakukan beberapa langkah sebagai berikut:
1)      Membuat kisi-kisi soal berdasarkan Kurikulum Kompetensi Satuan Pelajaran (KTSP).
2)      Membuat butir-butir soal dengan kisi-kisi soal tes yang telah dibuat, kisi-kisi soal tes pada lampiran VIII.
3)      Validasi soal tes yang dibuat peneliti oleh Dosen dan Guru matematika kelas VIII SMP 1 Tanjung Emas.
4)      Setelah soal divalidasi oleh Dosen dan satu orang guru matematika di SMPN 1 Tanjung Emas, soal diujicobakan kepada siswa kelas VIIIb SMPN 4 Parambahan yaitu pada tanggal 29 Juli 2009. Kelas ini diambil karena rata-rata nilai semester 2 kelas VII Tahun Pelajaran 2008/2009 (setelah dikelompokkan berdasarkan kelasnya yang sekarang yaitu kelas VIIIb) berdistribusi normal dengan kelas sampel dan P-Value > α , dimana P-Value = 000 yang berarti kedua kelas kemampuannya tidak berbeda signifikan. Untuk mendapatkan tes yang baik, maka dilakukan langkah sebagai berikut:
a)      Daya Pembeda Soal
Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.[10] Untuk mengetahui daya pembeda soal, terlebih dahulu dengan mencari indeks pembeda soal dengan cara sebagi berikut :
(1)   Data diurutkan dari nilai tertinggi sampai nilai yang terendah
(2)   Kemudian diambil 27% dari kelompok yang mendapat nilai tinggi dan 27% dari kelompok yang mendapat nilai rendah.
(3)   Hitung degress of freedom (df) dengan rumus :
df  =  (n-1 ) + (  n- 1)
n = n = 27 %  x  N = n
(4)   Cari indeks pembeda soal dengan rumus :
I =
Ket : 
I      : Indeks pembeda soal
M      : Rata-rata skor kelompok rendah
M      : Rata-rata skor kelompok tinggi
 : Jumlah kuadrat deviasi skor kelompok tinggi
 : jumlah kuadrat deviasi skor kelompok rendah
n         : 27 % x N  
N       : Banyak peserta tes

Suatu soal mempunyai daya pembeda yang berarti (signifikan) jika Ihitung  Itabel pada df yang telah ditentukan.
Setelah dilakukan analisis daya beda pada soal tes uji coba tersebut, maka diperoleh daya pembeda soal tersebut berkisar antara 2.24 sampai dengan 8.87 dengan kriteria untuk semua soal adalah signifikan. Dari analisis tersebut, tidak ada soal yang direvisi kembali atau semua soal dipakai untuk soal tes. Untuk lebih jelasnya juga dapat dilihat pada lampiran 18 halaman Hasil perhitungan analisis daya pembeda soal secara lengkap dapat dilihat pada lampiran XI.

b)     Indeks Kesukaran Soal
Asnelly Ilyas sebuah butir soal dikatakan baik adalah apabila tingkat kesukaran dapat diketahui tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah.[11] Sebab tingkat kesukaran item itu memiliki korelasi dengan daya pembeda. Bila item memiliki tingkat kesukaran maksimal, maka daya pembeda akan rendah, demikian pula bila item itu terlalu mudah juga tidak akan memiliki daya pembeda.
Untuk menentukan indeks kesukaran (I) soal essay dapat digunakan rumus[12] adalah sebagai berikut:
I  =
Ket :
I     :  Indeks kesukaran soal
D       : Jumlah skor dari kelompok tinggi
D       : Jumlah skor dari kelompok rendah
m         : Skor setiap soal benar
N         : Banyak peserta tes
n          : 27% x N

Dengan kriteria :
I<  27%                 Soal sukar
27 %         Soal sedang
I> 73 %                    Soal mudah

Setelah dilakukan analisis soal tes uji coba tersebut, tingkat kesukarannya berkisar antara 18 % sampai dengan 75%, dengan soal sukar sebanyak 1 buah, soal sedang sebanyak 6 buah dan soal mudah sebanyak 1 buah. Untuk lebih jelasnya perhitungan indeks kesukaran soal uji coba dapat dilihat pada lampiran 18 halaman 155

c)      Klasifikasi  Soal
Klasifikasi soalnya dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut[13]:
(1)         Item dipakai jika Ip signifikan dan 0%≤Ik≤100%
(2)         Item diperbaiki jika:
(a)      Ip signifikan dan Ik  0% atau Ik  = 100%
(b)     Ip tidak signifikan dan 0%<Ik<100%
(3)         Item diganti jika Ip tidak signifikan dan Ik = 0 % atau Ik = 100%

Berdasarkan analisis soal uji coba pada lampiran XII diperoleh Ip signifikan dan Ik mudah, sedang dan sukar, sehingga semua soal dipakai.

d)     Reliabilitas Tes
Reabilitas tes adalah suatu ukuran apakah tes tersebut dapat dipercaya. Suatu tes dikatakan reable apabila beberapa ahli pengujuan menunjukan hasil yang reable sama. Untuk menentukan koefisien reabilitas digunakan rumus alpha yang dinyatakan oleh Suharsimi Arikunto.[14] :
r  = ()()
Keterangan :
r              : Reabilitas yang dicari
        : Jumlah variansi skor tiap-tiap item
           : Variansi total
n                : Jumlah butir soal

Dengan Kriteria sebagai berikut :
0.90   r 1.00             Reabilitas tinggi sekali
0.70  r < 0.90              Reabilitas tinggi
0.40  r < 0.70              Reabilitas cukup
0.20  r < 0.40              Rebilitas rendah
0.00  r < 0.20              Reabilitas sangat rendah sekali

Nilai r di peroleh dibandingkan dengan r. Jika  r > r  maka dapat disimpulkan bahwa soal tes reliabel. Dengan menggunakan tabel produc moment pada lampiran XIV di dapat rhitung = 0, 71 sedangkan rtabel = 0, 423. Jadi rhitung > rtabel berada pada kriteria tinggi. Hal ini menandakan bahwa reliabilitas tes berarti.
Setelah dilakukan analisis reliabilitas dengan rumus diatas, maka diperole rhitung sebesar 0,71. Kemudian dapat dilihat bahwa rhitung tersebut lebih besar dari pada rtabel yaitu 0,527 untuk interval kepercayaan 99 % dan rtabel lebih besar juga dari 0,423 untuk interval kepercayaan 95 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tes tersebut memiliki koefisien stabilitas yang cukup signifikan dan berarti tes memiliki reliabilitas internal yang tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 20 dan Tabel Harga Kritik Dari r Produk Moment pada lampiran 27 halaman 167

7.      Teknik Analisis Data
a.      Lembar Observasi
Persentase siswa yang aktif dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut[15]:
                       
                        Keterangan:
                        P% : Persentase aktivitas
                        F    : Frekuensi aktivitas
                        N    : Jumlah Siswa

Penilain aktivitas dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut[16]:
                        1% - 25%        : Sedikit sekali
                        26% - 50%      : Sedikit
                        51% - 75%      : Tinggi
                        76% - 99%      : Tinggi sekali


b.      Tes Hasil Belajar
Untuk menarik kesimpulan maka dilaksanakan pengujian hipotesis secara statistik. Untuk melakukan uji statistik maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variansi kedua kelompok data.
1)      Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelompok data berdistribusi normal atau tidak. Uji ini dilakukan dengan menggunakan uji Liliefors yang dikemukakan oleh Sudjana dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a)      Menyusun skor hasil belajar siswa dalam suatu tabel skor, disusun dari yang terkecil sampai yang terbesar.
b)      Mencari skor baku dan skor mentah dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
S = Simpangan baku
Skor rata-rata
X = Skor dari tiap siswa
c)      Dengan menggunakan daftar dari distribusi normal baku dihitung peluang
d)    
e)      Menghitung jumlah proporsi skor baku yang lebih kecil atau sama  yang dinyatakan dengan S() dengan menggunakan rumus :
f)       Menghitung selisih antara F() dengan S() kemudian tentukan harga mutlaknya.
g)      Ambil harga mutlak yang terbesar dan harga mutlak selisih diberi simbol .
h)      Kemudian bandingkan   dengan nilai  Ltabel dengan taraf nyata α = 0.05 jika <  maka data berdistribusi normal.[17]


2)      Uji Homogenitas Variansi
Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok data mempunyai variansi hoogen atau tidak. Untuk mengujinya digunakan uji F, misalnya kita mempunyai dua populasi normal dengan variansi akan diuji hipotesis : rumus yang digunakan untuk menguji hipotesi ini adalah :
Keterangan :
Variansi hasil belajar kelompok eksperimen
Variansi belajar kelompok kontrol.

Kriteria pengujian adalah terima hipotesis jika :
Dimana :
Maka dikatakan kedua kelompok data mempunyai variansi yang homogen.[18]

3)      Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk menentukan apakah hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Dengan hipotesis yaitu, H : = dan H = > dengan merupakan  rata-rata hasil belajar matematika kelas eksperimen dan  merupakan rata-rata hasil belajar matematika kelas kontrol. Maka untuk menguji hipotesis ini digunakan uji-t satu arah dengan bantuan software MINITAB
Berdasarkan uji normalitas dan uji homogenitas variansi ada beberapa rumus untuk menguji hipótesis yaitu:
 a)    Jika skor hasil belajar siswa berdistribusi normal dan data berasal dari sampel yang bervariansi homogen, maka rumusnya:
            dan     
Keterangan:
= Skor  rata-rata siswa kelompok eksperimen
= Skor rata-rata siswa kelompok kontrol
s = Simpangan baku gabungan
 = Jumlah siswa kelompok eksperimen
= Jumlah siswa kelompok kontrol
 = Standar deviasi kelas eksperimen
 = Standar deviasi kelas kontrol

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:

Derajat kebebasan (dk) =
Jika α, maka diterima dan ditolak

Kriteria uji-t dengan MINITAB yaitu tolak jika P<α

 b)    Jika populasi berdistribusi normal dan kedua kelompok data tidak mempunyai variansi yang homogen, maka rumusnya:
Kriteria pengujiannya adalah:
diterima jika:
                           
                              
Dan tolak  jika terjadi sebaliknya.[19]
 c)    Jika sampel tidak berdistribusi normal maka digunakan uji U Mann Whitney dengan langkah-langkah sebagai berikut[20]: 
(1)   Menentukan nilai  dan dimana  adalah jumlah data cuplikan terkecil diantara dua kelompok cuplikan, sedangkan adalah jumlah data cuplikan terbesar
(2)   Buat ranking gabungan dari kedua kelompok tersebut, mulai dari satu sampai N =   +
(3)   Hitung nilai U dengan mempergunakan metode perhitungan U dengan menggunakan rumus:
Dimana  adalah jumlah ranking yang diberikan pada kelompok yang ukuran sampelnya  dan  adalah jumlah ranking yang diberikan pada kelompok yang ukuran sampelnya .
(4)   Untuk menetapkan kesignifikanan harga U, maka hitung harga Z dengan rumus:
     
      Keterangan:
U = Harga U terkecil
n = Jumlah data cuplikan
 = Jumlah data culikan kelompok terkecil
= Jumlah data cuplikan kelompok terbesar

(5)   Jika nilai U mempunyai peluang sama atau lebih kecil dari
Kriteria uji-t dengan MINITAB yaitu tolak jika P<α














BAB  II
KERANGKA TEORITIS

A.    Kajian Teori
1.       Belajar Mengajar Matematika
Belajar dan mengajar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek yang menerima pelajaran (sasaran didik), sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. Dua konsep tersebut menjadi terpadu dalam satu kegiatan manakala terjadi interaksi guru – siswa, siswa – siswa pada saat pengajaran itu berlangsung. Jadi belajar mengajar merupakan dua kegiatan yang sama pentingnya. Keduanya mempunyai tujuan yang sama dan searah, yaitu untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran. yang Slameto menjelaskan bahwa :
“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”[21].
Belajar merupakan suatu kegiatan aktif dimana individu akan mengalami perubahan bila melakukan pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Nana Sudjana bahwa “belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang”[22]. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, dan lain-lain.
Sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dari pengertian di atas tampak bahwa konsep tentang belajar mengandung tiga (3) unsur utama, yaitu:
a.       Belajar berkaitan dengan perubahan tingkah laku
b.      Perubahan perilaku terjadi karena didahului oleh proses pengalaman
c.       Perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen.
Jadi belajar adalah proses perubahan perilaku individu yang berasal dari pengalaman (terjadi sebagai akibat dari interaksi individu dengan lingkungan) dan berlangsung selama periode tertentu. Untuk itu perlunya kita menyusun sendiri.
Dari uraian tentang belajar di atas, dapat diambil kesimpulan betapa pentingnya proses belajar dan kehidupan manusia. Untuk itu kita perlu mengetahui prinsip-prinsip belajar.

Dalam hal ini Slameto mengemukakan prinsip-prinsip belajar, sebagai berikut[23]:
a.       Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional
b.      Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu memiliki struktur, penyajian yang sederhana sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya
c.       Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional
d.      Belajar itu proses kontinu maka harus tahap demi tahap menurut discovery
e.       Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery
f.       Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapai
g.      Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang
h.      Belajar perlu lingkungan yang menantang, dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya ber-eksplorasi dan belajar dengan efektif
i.        Belajar perlu ada interaksi siswa dan lingkungan

Berdasarkan pendapat Slameto di atas dapat disimpulkan betapa pentingnya proses belajar itu. Kemudian belajar matematika itu adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur yang terdapat dalam bahasan yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan stuktur tersebut.
Belajar matematika menurut paham konstruktivis adalah proses dimana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika. Matematika adalah ilmu yang sangat mendasar sekali yang mana dengan belajar matematika dapat menunjang kemajuan ilmu pengetahuan. Semakin maju ilmu pengetahuan maka semakin banyak dibutuhkan ilmu matematika ini. Dan matematika ini dapat membantu manusia dalam hidupnya.
Sesuai dengan yang dikatakan oleh Kline dalam Erman Suherman bahwa: ”Matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam”. [24]
Kegiatan belajar mengajar merupakan pokok dalam proses pendidikan dalam dunia pendidikan. Dan dengan belajar mengajar ini terjadinya interaksi guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Dalam mewujudkan interaksi yang baik maka perlu juga adanya komunikasi yang baik agar tercapainya tujuan pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh Sudjana[25] yaitu:
Ada tiga pola komunikasi yang dapat digunakan untuk mengembangkan interaksi dinamis antar guru dengan siswa yaitu:
a.       Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah
b.      Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah
c.       Komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi.
                       
2.      Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan kelompok. Pembelajaran dengan kooperatif menuntut siswa saling kerjasama untuk meyelesaikan suatu tugas. Kooperatif sebagai model pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari siswa yang berkemampuan heterogen (siswa berkemampuan akademik tinggi, sedang dan rendah). Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir dan kegiatan belajar.
Ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a.       Setiap anggota mempunyai peran
b.      Terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa
c.       Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompok
d.      Peran guru membantu para siswa untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal
e.       Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.[26]

Berdasarkan pendapat di atas, pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran secara berkelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari kemampuan heterogen. Walaupun demikian anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama, apakah itu untuk mempelajari suatu materi, melengkapi tugas-tugas dan menyelesaikan suatu suatu masalah. Keberhasilan dan kegagalan suatu kelompok ditentukan oleh kerjasama antar anggota, maka semua anggota harus bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah.
Dalam hal ini ada tiga konsep utama yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.

a.       Penghargaan kelompok
Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok mencapai skor diatas kriteria yang ditentukan.
b.      Pertanggungjawaban individu
Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran setiap anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitikberatkan kepada aktivitas anggota kelompok yang saling mendukung, saling membantu dan saling peduli.
c.       Kesempatan yang sama untuk berhasil
Pembelajaran kooperatif menggunakan metode penskoran untuk menentukan nilai perkembangan individu. Nilai perkembangan ini berdasarkan pada peningkatan skor tes yang diperoleh siswa dari tes yang terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap siswa yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan berbuat sesuatu yang terbaik bagi kelompok.[27]

Pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa untuk belajar kelompok dan saling berbagi dengan teman-temannya. Setiap anggota dituntut untuk mengeluarkan ide-ide atau gagasan-gagasan untuk memahami materi tersebut.
Untuk mencapai hasil yang maksimal ada lima (5) unsur yang perlu diterapkan dalam pembelajaran kooperatif yaitu:
a.       Saling ketergantungan
Bila terdapat saling ketergantungan positif diantara anggota kelompok maka akan tercipta kerjasama yang dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi. Disamping itu siswa juga akan merasa bahwa mereka akan saling membutuhkan untuk memcapai suatu tujuan
b.      Tanggungjawab perorangan
Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk belajar dan menyelesaikan suatu tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini perlu dilakukan demi keberhasilan kelompok atas nama bersama
c.       Tatap muka
Setiap anggota kelompok diberi kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Interaksi ini akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membentuk sikap yang menguntungkan semua anggota
d.      Komunikasi antar kelompok
Keberhasilan kelompok juga bergantung kepada kesediaan anggotanya untuk menjelaskan dan memberi pendapatnya. Dengan kata lain untuk mendapatkan hasil yang maksimal tiap anggota dalam suatu kelompok harus saling berbicara dalam mendiskusikan masalah yang dihadapinya.
e.       Evaluasi proses kelompok
Anggota-anggota kelompok akan menilai kembali usaha mereka dan kemajuan kelompok dari segi pencapaian hasil dan untuk selanjutnya bisa bekerjasama dengan lebih efektif.[28]

Untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif, perlu diperhatikan langkah-langkah pembelajannya yaitu sebagai berikut:
Tabel. 5 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif[29]
Fase
Tingkah Laku Guru
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa



Fase-2
Menyajikan informasi



Fase-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar


Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Fase-5
Evaluasi




Fase-6
Memberikan penghargaan


Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar


Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan


Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien


Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mareka mengerjakan tugas mereka


Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.


Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.


Menurut Lungren dalam Ibrahim pembelajaran kooperatif sangat bermanfaat bagi siswa yang hasil belajarnya rendah, diantara manfaat tersebut adalah:
a.       Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas.
b.      Rasa harga diri menjadi lebih tinggi.
c.       Memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah
d.      Memperbaiki kehadiran.
e.       Anak putus sekolah menjadi rendah.
f.       Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar.
g.      Perilaku mengganggu lebih kecil.
h.      Konflik antar pribadi menjadi berkurang.
i.        Sikap apatis berkurang
j.        Pemahaman yang lebih mendalam
k.      Motivasi lebih besar
l.        Hasil belajar tinggi
m.    Retensi lebih lama
n.      Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.[30]


3.      Pembelajaran Dengan Tutor Sebaya
Kemampuan siswa dalam memahami pelajaran matematika berbeda-beda antar anak. Ada yang cepat menangkap apa yang di sampaikan oleh guru dan ada juga yang lemah. Penyebabnya berbeda-beda juga antar anak. Apabila dibiarkan terus-menerus itu akan mengakibatkan siswa tidak berhasil dalam belajar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa kemampuan murid untuk menguasai suatu bidang studi banyak bergantung pada kemampuannya untuk memahami ucapan guru.[31]
Berdasarkan pengertian di atas, jelas bahwa gurulah yang mempengaruhi proses belajar siswa untuk memahami pelajaran. Maka untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru maka guru dapat menerapkan dan menciptakan suatu ide atau alternatif agar kesulitan-kesulitan siswa dalam memahami pelajaran dapat teratasi dengan menerapkan pembelajaran dengan bantuan Tutor Sebaya. Seperti yang diungkapkan oleh Dedi Supriyadi dalam Erman Suherman bahwa: ”Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya yang lebih tinggi”.[32]
Hal senada juga di jelaskan oleh  Ischak dan Warji dalam Erman Suherman ia  mengemukakan bahwa: ”Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya”.[33]
Berdasarkan pengertian–pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tutor teman sebaya adalah sumber belajar sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah. Bantuan belajar yang diperoleh dari teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya untuk bertanya ataupun minta bantuan.
Untuk menentukan siapa yang akan dijadikan tutor sebaya, diperlukan pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Seorang siswa yang dijadikan tutor sebaya belum tentu yang paling pandai. Yang penting diperhatikan siapa yang akan dijadikan tutor tersebut adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain[34] adalah:
a.       Dapat diterima (disetujui) oleh siswa dalam kelompoknya. Sehingga siswa tersebut tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya.
b.      Dapat menerangkan bahan yang diperlukan oleh siswa.
c.       Tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama teman.
d.      Mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk me,berikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada temannya.

Untuk memperoleh siswa yang memenuhi berbagai persyaratan di atas memang sukar. Akan tetapi, hal ini dapat diatasi dengan jalan memberikan petunjuk sejelas-jelasnya tentang apa yang harus dilakukan.
Ada beberapa manfaat dari kegiatan tutoring ini, yaitu:
a.       Ada kalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa anak yang mempunyai perasaan takut atau enggan kepada guru.
b.      Bagi tutor, pekerjaan tutoring akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang akan dibahas. Dengan memberitahukan kepada anak lain, maka seoalah-olah ia menelaah serta menghafalnya kembali.
c.       Bagi tutor merupakan kesempatan untuk berlatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran.
d.      Memperkuat hubungan antara sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.[35]

Namun, disamping kebaikan tersebut ada kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan ini, karena :
a.       Siswa yang dibantu sering belajar kurang serius, karena hanya berhadapan dengan kawannya, sehingga hasilnya kurang memuaskan.
b.      Ada beberapa anak yang menjadi malu bertanya, karena takut rahasianya diketahui oleh kawanya.
c.       Pada kelas-kelas tertentu pekerjaan tutoring ini sukar dilaksanakan, karena perbedaan kelamin antara tutor dengan siswa.
d.      Bagi guru sukar untuk menentukan seorang tutor yang tepat bagi seorang atau beberapa orang siswa yang harus dibimbing.
e.       Tidak semua siswa yang pandai atau cepat waktu belajarnya dapat mengerjakannya kembali pada kawan-kawannya.[36]

Walaupun pelaksanaan ini juga ada kelemahannya, guru dapat meminimalisasikannya dengan pemantauan yang ketat sehingga pelaksanaan ini sesuai dengan apa yang diharapkan.
Tugas sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang justru sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri. Dalam persiapan ini antara lain mereka berusaha mendapatkan hubungan dan pergaulan baru yang mantap dengan teman sebaya mencari perannya sendiri, mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-konsep yang penting, mendapatkan tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.
Pembelajaran dengan tutor sebaya dengan demikian beban yang diberikan kepada mereka akan memberi kesempatan untuk mendapatkan perannya, bergaul dengan orang lain dan bahkan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.

4.      Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah suatu lembaran yang berupa satu, dua atau lebih yang mana berisikan materi pelajaran dan disajikan dalam bentuk tugas, soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa pada lembar itu. Penggunaan lembar kerja siswa (LKS) dalam pengajaran matematika sangat berarti sekali karena dapat membantu siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Karena LKS mengandung tuntunan bagi siswa yang menggunakannya, sehingga kegiatan yang dilakukan lebih terarah dan terbimbing dan sesuai dengan tujuan pelajaran yang hendak dicapai.
Adanya LKS ini dalam proses pembelajaran matematika dapat menjadikan siswa aktif dan tidak menjadi bosan dalam belajar sehingga dapat meningkatkan potensi belajar.
Dalam bahan Tim PPPG matematika Yogyakarta pun menyebutkan bahwa kegunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah:
                                     a.      Merupakan alternatif bagi guru untuk mengarahkan pengajaran atau memperkenalkan suatu kegiatan tertentu (konsep, prinsip, atau skill) sebagai variasi kegiatan pembelajaran.
                                    b.      Menghemat waktu penyajian karena dapat mempercepat proses pengakaran.
                                     c.      Memudahkan penyelesaian tugas perorangan, kelompok atau klasikal, karena siswa dalam menyelesaikan tugas itu sesuai dengan kecepatannya.
                                    d.      Meringankan kerja guru dalam memberi bantuan perorangan atau meremedi terutama untuk mengelola kelas yang besar.
                                     e.      Siswa atau kelompok dapat menggunakan alat bantu itu secara bergiliran dari bahan yang tersedia.
                                     f.      Dapat membangkitkan minat siswa, jika lembar kerja berstruktur itu disusun secara menarik.[37]

Berdasarkan kegunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) di atas dapat disimpulkan bahwa LKS sangat membantu siswa maupun guru dalam proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas, sehingga dapat menambah pengalaman siswa dan motivasi siswa.

5.      Aktivitas Siswa Dalam Belajar
Pada proses belajar aktivitas siswa sangat diperlukan, karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi belajar adalah melakukan suatu kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi belajar-mengajar. Di dalam aktivitas belajar ada beberapa prinsip yang  dikemukakan oleh Sardiman[38]. Prinsip ini berorientasi pada pandangan ilmu jiwa :
a.       Pandangan ilmu jiwa lama. Menurut pandangan ini aktivitas didominasi oleh guru.
b.      Pandangan ilmu jiwa modern. Pandangan ini aktivitas siswa didominasi oleh siswa.


Dalam hal kegiatan belajar ini, segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, bekerja sendirin dengan fasilitas yang diciptakan sendiri baik secara rohani maupun secara teknis.
Berbagai aktivitas dilakukan dalam proses pembelajaran. Aktivitas siswa tidak cukup dengan hanya mendengar saja, mencatat, dan mengerjakan tugas saja. Menurut Paul B. Deidrich dalam Sardiman A.M[39] yang menyatakan bahwa : Kegiatan siswa antara lain dapat digolongkan sebagai berikut :
a.       Visual activities (aktivitas mental) yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
b.      Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi dan interupsi.
c.       Listening activities  sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d.      Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
e.       Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f.       Motor activities, yang termasuk di dalamnyaantara lain: melakukan percoban, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
g.      Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h.      Emotional activities, seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berano,tenang, gugup.

Karena keterbatasan waktu dan tenaga yang peneliti miliki maka aktivitas siswa yang diamati dalam penelitian ini adalah :
a.       Visual dan listening activities yaitu aktivitas siswa dalam memperhatikan penyampaian materi dan penyelesaian soal oleh guru dan tutor.
b.      Oral activities melalui aktivitas siswa dalam memberikan pertanyaan, tanggapan, dan menjawab pertanyaan yang disajikan padanya pada proses pembelajaran berlangsung dan membantu siswa / temannya dalam menyelesaikan LKS.
c.       Mental activities melalui aktivitas ini siswa berlatih kecepatan, kemampuan mereka untuk menyerap informasi dari materi yang diberikan.
d.      Writing activities melalui ketekunan siswa dalam menyelesaikan soal dengan baik.
Berdasarkan pendapat di atas jelas bahwa aktivitas siswa sangat diperlukan dalam proses belajar. Tetapi kenyataannya dilapangan banyak siswa yang pasif, siswa lebih banyak mendengarkan, mencatat ringkasan materi yang diberikan guru di papan tulis atau dibacakan. Sehingga hal tersebut membuat siswa tidak kreatif baik dari segi bicara atau berbuat.

6.      Pembentukan Kelompok Belajar
Kelompok belajar adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dimana dalam kelompok belajar ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang nantinya mereka saling bekerja sama untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Untuk mencapai hasil yang baik dalam pelaksanaan kerja kelompok ini, maka faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah:
a.       Perlu adanya motif (dorongan) yang kuat untuk bekerja pada setiap anggota.
b.      Pemecahan masalah dapat dipandang, sebagai satu unit dipecahkan bersama, atau masalah dibagi-bagi untuk dikerjakan masing-masing.
c.       Persaingan yang sehat antar kelompok biasanya mendorong anak untuk belajar
d.      Situasi yang menyenangkan antar anggota banyak menentukan berhasil tidaknya kerja kelompok. [40]

Berdasarkan faktor-faktor di atas kita dapat melaksanakan pembelajaran tutor sebaya dengan kerja kelompok. Dimana siswa nantinya diberi kan masing-masing LKS untuk nantinya dikerjakan bersama-sama dalam kelompoknya yang di Bantu oleh tutor. Sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat setelah melaksanakan pembelajaran dengan bantuan kerja kelompok..

7.      Pembelajaran Konvensional
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia konvensional berarti tradisional. Jadi pembelajaran konvensional dapat juga disebut pembelajaran yang dilaksanakan secara tradisional. Menurut Dave Meier menyatakan bahwa:
Pembelajaran tradisional diera industri cendrung menekankan fungsi reftil: belajar menghafal, meniru, guru sebagai pusat kekuasaan, pembelajar sebagai pelajar yang patuh dan pasif, mengikuti rutin dan contoh yang di tetapkan oleh hierarki, system yang digerakan oleh semangat mempertahankan diri (takut akan kegagalan), tanpa perhatian pada perasaan dan ikatan sosial dilingkungan pendidikan, tanpa usaha untuk mengajar murid cara berkreasi, memecahkan masalah dan berpikir sendiri.[41]

Dari kutipan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang berorientasi pada guru dimana siswa hanya menerima saja apa yang dikatakan guru tanpa berusaha sendiri atau mandiri. Hal tersebut dapat membuat siswa menjadi pasif dalam belajar. Akibatnya konsep pelajaran tidak didapat oleh siswa secara optimal.
Pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang dimulai dengan orientasi dan penyajian informasi yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari, dilanjutkan dengan pemberian contoh soal yang diberikan oleh guru. Setelah itu diadakan tanya jawab sampai akhirnya guru merasa bahwa apa yang telah diajarkan dapat dimengerti oleh siswa. Terakhir guru memberikan tugas untuk dikerjakan dirumah.
Dalam pembelajaran konvensional yang aktif adalah guru sehingga terjadi komunikasi satu arah. Jadi dapat dikatakan bahwa pembelajaran konvensional lebih menitik beratkan keaktifan guru daripada keaktifan siswa.
Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran pada zaman-zaman dahulu yang diterapkan oleh guru-guru. Dimana dalam pembelajaran ini guru mengajarkan di depan kelas dengan ceramah, menuliskan dipapan tulis atau mendikte dan siswa mencatat dibuku catatannya masing-masing.
Menurut Nasution pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Tujuan tidak dirumuskan secara spesifik ke dalam kelakuan yang dapat diukur.
b.      Bahan pelajaran diberikan kepada kelompok atau kelas secara keseluruhan tanpa memperhatikan siswa secara individual.
c.       Bahan pelajaran umumnya berbentuk ceramah, kuliah, tugas tertulis, dan media lain menurut pertimbangan guru.
d.      Berorientasi pada kegiatan guru dan mengutamakan kegiatan mengajar
e.       Siswa kebanyakan bersikap pasif mendengar uraian guru
f.       Semua siswa harus belajar berdasarkan kecepatan guru mengajar
g.      Penguatan umumnya diberikan setelah dilakukannya ulangan umum atau ujian
h.      Keberhasilan belajar umumnya dinilai guru secara subyektif
i.        Pengajar umumnya sebagai penyebar dan penyalur informasi utama
j.        Siswa biasanya mengikuti beberapa tes atau ulangan mengenai bahan yang dipelajari dan berdasarkan angka hasil tes atau ulangan itulah nilai rapor yang diisikan.[42]

Pembelajaran konvensional yang dimaksud  dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang diberikan dengan metode ceramah, guru menerangkan di depan kelas, dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai materi tersebut dan diakhiri dengan pemberian Pekerjaan Rumah (PR)

8.      Hasil Belajar
Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dan hasil dari tes belajar.
Ibrahim menyatakan bahwa:
Hasil belajar atau kompetensi siswa didefenisikan sebagai produk belajar, keterampilan dan sikap yang tercermin di dalam perilaku sehari-hari. Produk mencakup serangkaian fakta, konsep, teori, hukum, dan prinsip serta prosedur. Keterampilan terdiri dari keterampilan berfikir, keterampilan menggunakan alat (psikomotor), keterampilan sosial (keterampilan interpersonal), keterampilan proses (keterampilan melakukan penelitian dan keterampilan menggunakan strategi belajar), maupun keterampilan untuk belajar sepanjang hayatdan keterampilan hidup (life skills). Sikap mencakup budi pekerti, etika dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.[43]

 Dengan hasil belajar ini guru dapat mengetahui pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Cara kita mengetahui hasil belajar ini adalah dengan tes. Tes adalah alat atau teknik penilaian yang sering digunakan oleh setiap guru. Dengan tes ini bisa mengukur kemampuan peserta didik dalam pencapaian suatu tujuan tes berbentuk angka.
Hasil belajar dapat dikelompokan menjadi tiga (3) ranah yaitu ranah kognitif (pikiran), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Ranah kognitif adalah yang mencakup kegiatan mental (otak). Dalam kognitif terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang tersebut adalah: pengetahuan/hafalan/ingatan, pemahaman,penerapan, analisis sintesis, dan penilaian. Ranah afektif dikelompokkan menjadi lima (5) kelompok yaitu: pengenalan/penerimaan, pemberian respon, penghargaan terhadap nilai, pengorganisasian, pengalaman. Dan ranah psikomotor menekankan pada keterampilan “neoro-mascular” yaitu keterampilan yang bersangkutan dengan gerakan otot. Keenam tingkatan tersebut adalah gerakan reflek, gerakan dasar, gerakan persepsi, gerakan kemapuan fisik, gerakan terampil dan gerakan indah dan kreatif.
B.     Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Fitri Yulia (UNP, 2008) yang berjudul  Dampak Tutor Sebaya dalam Belajar Kelompok Terhadap Aktivitas dan Hasil belajar Siswa Kelas X SMAN 4 Solok Tahun Pelajaran 2007/2008 “. Penelitian ini difokuskan pada aktivitas dan hasi belajar matematika siswa, serta menggunakan dua instrumen penelitian yaitu tes hasil belajar dan lembar observasi kelas. Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan Fitri Yulia adalah bahwa peneliti hanya memberikan LKS kepada kelas eksperimen sedangkan Fitri Yulia memberikan LKS kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

C.    Kerangka Konseptual
Proses belajar mengajar di sekolah berjalan dengan baik apabila guru dan siswa saling berinteraksi satu sama lain. Dalam proses belajar mengajar guru dapat memilih bantuan  dalam proses belajar. Salah satu bantuan yang bisa diterapkan di sekolah adalah bantuan Tutor Sebaya, yang mana Tutor ini diambil dari kelompok siswa yang mempunyai kemampuan akademik yang tinggi. Sehingga mereka dapat membantu dan membimbing temannya yang kesulitan dalam memahami pelajaran matematika dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.


[1] Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula, (Bandung: AlvaBeta, 2004), h. 19
[2] Erman Suherman, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: UPI,2003), h. 22
[3] Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula,  (Bandung; AlvaBeta) 2004 h. 50.
[4] Sumardi Suryabrata , 2002: 43
[5] Ibid., h. 10
[6] Buku Pedoman Penelitian Skripsi STAIN Prof. DR. H. Mahmud Yunus Batusangkar, 2004. h.14
[7] Sudjana, 1996,  Metode Penelitian, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya), h. 166
[8] Ronald, E. Walpole. 1993, Pengantar Statistika, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka), h. 391 Edisi Ketiga
[9] Ronald E. Walpole dan Raymond H Myers, 1995, Ilmu Peluang dan Statistika untuk Insiyur dan Ilmuan, (Bandung: ITB), h. 342 Edisi Keempat
[10] Pratiknyo Prawironegoro, Evaluasi Hasil Belajar Khusus Analisis Soal untuk Bidang Studi matematika, (Jakarta: 1985), h. 11
[11] Op. cit., h. 115
[12] Pratiknyo Prawironegoro,  1985, Evaluasi Hasil Belajar Khusus Analisis Soal Bidang Studi Matematika, (Jakarta: Dirjen Dikti P21. PTK),  hal. 14
[13] Ibid h. 16
[14] Suharsimi Arikunto,2002,  ProsedurPenilaian, (Jakarta: PT. Roneka Cipta), h. 109
[15] Sudjana , Metode Statistika. (Bandung: 2002) 
[16] Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994:, h. 115
[17] Nana Sudjana, 1996, Metode Penelitian, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya), h. 166
[18] Ibid, h. 249
[19] Ibid, h.241        
[20] Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, 2008, Pengantar Statistika, (Jakarta: PT. Bumi Aksara), h. 325 Edisi Kedua
[21] Salmeto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 1995), h. 2
[22] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1989), h. 28
[23] Salman-Affansi, 2009, Metoda Pembelajaran, tersedia:
www. Salman-Affansi. Com (9 Januari 2009)
[24] Erman Suherman dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia, 2003), h.17
[25] Opcit,.h. 31-32
[26] Muhammad Nur, 2005, Pembelajaran Kooperatif, (Jakarta: Depdiknas), h. 7
[27] Slavin, 1995, Cooperatif Learning, (New York: Simon and Schutester Company), h. 6
[28] Anita Lie, 2002, Cooperatif Learning, (Jakarta: PT. Gramedia Sarana Cipta), h. 30
[29] Muslimin Ibrahim dkk, 2000, Pembelajaran Kooperatif,  (Suarabaya: Universitas Negeri Surabaya- University Press), h. 10  
[30] Ibid, h. 18
[31] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 42
[32] Erman Suherman, op. cit,  h.276
[33] Ibid, h. 276
[34] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 25
[35] Ibid, h.26-27
[36] Ibid,
[37] TIM PPPG Matematika Yogyakarta, Penelitian Tindakan Kelas, (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003), h.16
[38] Sardiman A.M , Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006)
[39] Sardiman A.M , Ibid h. 103
[40] Nana Sudjana,  Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1987), h. 83
[41]   Dave Meier, The Acccerelated Learning (Hand Book), (Bandung: Kaifa, 1999), h. 84
[42] Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h. 209
[43] Muslimin Ibrahim, Assesmen Berkelanjutan, (Surabaya: Unesa University Press, 2005), h.1