BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Matematika adalah salah satu pelajaran dasar yang harus
dipelajari oleh setiap siswa karena matematika ini adalah ilmu yang mendasari
perkembangan teknologi modern dan juga dapat mengembangkan daya pikir manusia.
Guru sebagai pendidik harus mampu mendidik dan mengembangkan pola pikir siswa
dengan baik sehingga tujuan Pendidikan Nasional dapat tercapai. ”Tujuan
Pendidikan Nasional yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi Warga Negara yang
demokrasi serta bertanggung jawab”.[1]
Pemerintahpun berusaha meningkatkan mutu pendidikan
termasuk mutu pendidikan matematika yaitu meningkatkan kualitas guru dengan
mengadakan seminar, pelatihan, menambah sarana dan prasarana pendidikan di
sekolah serta merevisi kurikulum dari tahun ke tahun. Hal senada pun telah
dilakukan oleh SMPN 1 Tanjung Emas, namun berdasarkan kenyataan di lapangan
menunjukkan kondisi lain. Misalnya hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN 1 Tanjung Emas masih rendah. Hal
ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 1. Persentase Nilai Matematika Siswa Kelas
VIII Tahun Pelajaran 2009/2010 Saat Kelas VII
Semester 2 Tahun Pelajaran 20082009
|
No
|
Kelas
|
Jumlah
Siswa
|
Penyebaran
Nilai Siswa (%)
|
|||
|
< 60
|
≥ 60
|
|||||
|
1
|
VIIIa
|
27
|
24
|
88,89
|
3
|
11,11
|
|
2
|
VIIIb
|
26
|
23
|
88,46
|
3
|
11,54
|
|
3
|
VIIIc
|
25
|
20
|
80,00
|
5
|
20,00
|
|
4
|
VIIId
|
27
|
25
|
92,59
|
2
|
7,41
|
Sumber : Guru Matematika SMPN 1 Tanjung Emas
Berdasarkan tabel di atas, terlihat dari nilai semester matematika
siswa bahwa sedikit sekali siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yang ditetapkan yaitu 60.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru mata
pelajaran matematika di sekolah tersebut pada Tanggal 17 Maret 2009 diketahui
bahwa guru matematika telah berupaya untuk meningkatkan hasil belajar
matematika di kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas salah satunya dengan metode
ceramah dan pemberian tugas, tetapi cara tersebut masih kurang efektif untuk
meningkatkan hasil belajar siswa. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil
belajar matematika siswa adalah kurangnya
motivasi dan aktivitas siswa. Dimana pembelajaran lebih banyak di dominasi oleh
guru (kurangnya interaksi antar siswa-guru, siswa-siswa), dimana guru
mentransfer ilmu kepada siswa, kemudian siswa mendengarkan, memperhatikan dan
mencatat materi yang diberikan guru. Kegiatan yang seperti itu dapat
disimpulkan bahwa siswa pasif. Disamping itu, juga diketahui dari hasil
wawancara peneliti pada hari yang sama dengan beberapa siswa mereka menyatakan bahwa pelajaran matematika
kurang disenangi karena mereka tidak mengerti pelajaran matematika sehingga
pelajaran matematika menjadi pelajaran yang ditakuti oleh siswa. Selain itu di
dalam belajar matematika di SMPN 1 Tanjung Emas siswa lebih berani bertanya
kepada teman sebayanya yang memiliki kemampuan akademik yang lebih tinggi
daripada bertanya kepada guru matematika.
Berdasarkan permasalahan di SMPN 1 Tanjung Emas di atas,
maka guru matematika harus menciptakan suatu metode yang menarik dan disenangi
oleh siswa sehingga mereka menjadi menyukai pelajaran matematika. Oleh karena
itu, diperlukan suatu solusi untuk mengatasi masalah tersebut, solusi yang
dapat digunakan adalah dengan bantuan tutor sebaya. Dimana dalam proses
pembelajaran matematika siswa belajar dalam kelompok kecil yang nantinya
dibimbing oleh tutor (temannya) yang memiliki kemampuan akademik yang
lebih tinggi dari mereka. Untuk bisa
menerapkan pembelajaran dengan bantuan seorang tutor maka peneliti menggunakan
sebuah model pembelajaran yaitu model kooperatif. Model pembelajaran kooperatif
menuntut kerjasama siswa dan saling ketergantungan dalam struktur tugas,
tujuan, dan hadiah.
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu dilakukan
penelitian di SMPN Tanjung Emas dengan judul “ Penerapan Bimbingan Tutor Sebaya Dalam Pembelajaran Matematika di Kelas
VIII SMPN 1 Tanjung Emas Tahun Pelajaran 2009/2010 “.
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan
latar belakang permasalahan yang telah diungkapkan di atas, maka permasalahan
dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.
Hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung
Emas rendah.
2.
Pembelajaran matematika yang masih monoton atau berpusat
pada guru.
3.
Aktivitas siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas dalam
pembelajaran matematika rendah.
4.
Siswa lebih berani bertanya pada temannya yang lebih
pandai daripada bertanya pada guru.
C.
Pembatasan Masalah
Mengingat
berbagai keterbatasan yang peneliti miliki dan agar terpusatnya pembahasan ini
maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti yaitu hasil belajar
matematika dan aktivitas siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas.
D.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan
masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
1.
Apakah bimbingan tutor sebaya dapat meningkatkan
aktivitas siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas?
2.
Apakah hasil belajar matematika siswa yang
menggunakan bimbingan tutor sebaya lebih baik daripada hasil belajar matematika
siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional di kelas VIII SMP N 1 Tanjung
Emas?
E.
Asumsi
Penelitian
ini dilakukan dengan berpegang pada asumsi, yaitu :
- Siswa mampu menerapkan pembelajaran dengan bimbingan tutor sebaya.
- Nilai yang diperoleh pada akhir penelitian mencerminkan kemampuan akademis belajar matematika siswa.
F.
Pertanyaan Penelitian dan Hipotesis
1. Pertanyaan penelitian dalam
penelitian ini adalah bagaimana dampak bimbingan tutor sebaya dalam belajar
kelompok terhadap aktivitas belajar matematika siswa di kelas VIII SMPN 1
Tanjung Emas?
2. Hipotesis dalam penelitian ini
adalah hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas dengan
bimbingan tutor sebaya dalam belajar kelompok lebih baik dari hasil belajar
matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung Emas dengan pembelajaran
konvensional.
G.
Definisi
Operasional
Supaya
tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami judul skripsi ini, maka peneliti
akan menjelaskan beberapa istilah di bawah ini:
Bimbingan pembelajaran tutor sebaya adalah bantuan yang
diberikan kepada siswa atau peserta didik sehingga dapat mencapai prestasi
belajar secara optimal. Bimbingan ini dilakukan oleh satu orang tutor kepada
teman-temannya dalam belajar kelompok. Apabila ada temannya yang kurang paham
dengan suatu materi maka tutorlah yang membimbing mereka.
Tutor
sebaya adalah seseorang yang ditunjuk oleh guru untuk membantu mengajarkan
pelajaran matematika kepada temannya dalam suatu kelompok yang terdiri dari 3-5
orang yang memiliki prestasi yang lebih tinggi dari anggota kelompoknya. Tutor
ini tidak hanya pintar di bidang akademik tetapi juga pintar emosional. Pintar
emosional disini maksudnya adalah tutor harus sabar dan paham dengan
rekan-rekannya. Apabila tutor telah menjelaskan materi kepada rekan-rekannya
tetapi mereka masih belum mengerti, maka tutor harus sabar terhadap situasi
yang seperti ini, sedangkan guru matematika berupaya membimbing dan mengarahkan
mereka untuk memahami materi tersebut.
Pembelajaran matematika adalah suatu pembelajaran yang seyogianya mengoptimalkan keberadaan dan
peran siswa sebagai pembelajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir,
berbuat dan menyimpulkan sendiri apa yang telah dipelajarinya. Matematika ini
adalah ilmu yang terstruktur yaitu mempelajari tentang pola keteraturan dan
struktur yang terorganisasikan.[2]
Hal itu dimulai dari unsur-unsur yang tidak terdefenisikan, kemudian kepada
unsur yang terdefenisikan.
H.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas maka penelitian ini
bertujuan untuk:
1.
Mengetahui dampak bimbingan dengan tutor sebaya
dalam belajar matematika terhadap aktivitas siswa kelas VIII SMPN 1 Tanjung
Emas.
2.
Mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa
yang menggunakan bimbingan tutor sebaya lebih baik daripada hasil belajar
matematika siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional di kelas VIII SMPN
1 Tanjung Emas.
I.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna untuk:
1. Sumbangan pemikiran dalam
usaha meningkatkan mutu pendidikan matematika di masa yang akan datang.
2.
Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini dapat
dimanfaatkan oleh guru bidang studi matematika bagi pelaksanaan pengajaran yang
merupakan tugas utamanya. Dengan adanya informasi tersebut diharapkan guru
dapat lebih memvariasikan metode pembelajaran agar para siswa akan lebih aktif
dan berinteraksi dengan temannya.
3.
Bahan pertimbangan bagi guru untuk menerapkan pembelajaran
tutor teman sebaya sebagai alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan di
sekolah.
J. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Berdasarkan
masalah yang peneliti paparkan sebelumnya, maka jenis penelitian yang peneliti
lakukan adalah penelitian eksperimen. Penelitian dengan pendekatan eksperimen
adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu
terhadap variabel lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat[3].
2.
Rancangan Penelitian
Penelitian
ini menggunakan rancangan the Static Group Comparison, dimana untuk
kelas eksperimen adalah kelas yang mendapatkan perlakuan dengan bimbingan tutor
sebaya sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang mendapatkan perlakuan dengan
pembelajaran konvensional. Menurut Suryabrata desain penelitian Randomized
Control Group Only Design dapat digambarkan seperti berikut :
Tabel 2. Bagan Desain Penelitian[4]
|
Kelas Sampel
|
Perlakuan
|
Tes
|
|
Kelas
Eksperimen
|
X
|
T
|
|
Kelas
Kontrol
|
-
|
T
|
Keterangan :
X :
Pembelajaran dengan bimbingan tutor sebaya
T :
Tes hasil belajar
3.
Populasi dan Sampel
a.
Populasi
Riduwan mengartikan populasi
adalah keseluruhan dari kharakteristik atau unit hasil pengukuran yang menjadi
objek penelitian.[5] Dalam
penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas VIII SMP N 1 Tanjung
Emas Kabupaten Tanah Datar Tahun Ajaran 2009/2010. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 3. Jumlah Siswa Kelas VIII SMPN 1
Tanjung Emas Tahun Pelajaran 2009/2010
|
No
|
Kelas
|
Jumlah Siswa
|
|
1
|
VIIIa
|
27
|
|
2
|
VIIIb
|
26
|
|
3
|
VIIIc
|
25
|
|
4
|
VIIId
|
27
|
Sumber: (Guru SMP
N 1 Tanjung Emas)
b.
Sampel
Sampel
adalah sebagian dari populasi yang diambil dengan cara yang representatif dari
populasi[6]. Sampel yang dipilih dalam penelitian
haruslah representatif yang menggambarkan keseluruhan karakterisrik dari suatu
populasi. Maka butuh
teknik sampling yang tepat untuk mendapatkan sampel yang benar.
Berdasarkan
permasalahan yang akan diteliti dan metode penelitian yang digunakan, maka
dibutuhkan dua kelas sebagai sampel yaitu untuk kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Untuk menentukan teknik sampling yang akan digunakan dengan
melakukan langkah-langkah sebagai
berikut :
1) Mengumpulkan nilai ujian matematika
siswa kelas VIII saat kelas VII
Semester 2 Tahun Pelajaran 2008/2009. Setelah itu dikelompokkan berdasarkan
kelasnya yang sekarang yaitu kelas VIII A sampai VIII D. Dapat dilihat pada
lampiran I.
2) Melakukan Uji Normalitas populasi
terhadap nilai semester 2 kelas VII yang telah dikelompokkan berdasarkan kelas VIII
yang sekarang tahun pelajaran 2009/2010 SMPN 1 Tanjung Emas. Uji normalitas
bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi normal atau tidak.
Hipotesis yang diajukan adalah:
Ho = Populasi berdistribusi
normal
H1 = Populasi berdistribusi
tidak normal
Langkah-langkah dalam menentukan uji
normalitas ini yaitu:
a)
Menyusun skor
hasil belajar siswa dalam suatu tabel skor, disusun dari yang terkecil sampai
yang terbesar.
b)
Mencari skor baku
dan skor mentah dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan :
S = Simpangan Baku
Skor rata-rata
Xi = Skor dari tiap siswa
c)
Dengan menggunakan
daftar dari distribusi normal baku dihitung peluang :
d)
Menghitung jumlah proporsi skor baku yang lebih kecil
atau sama
yang dinyatakan dengan
S(
) dengan menggunakan rumus :
e)
Menghitung selisih
antara F(
) dengan S(
) kemudian
tentukan harga mutlaknya.
f)
Ambil harga mutlak
yang terbesar dan harga mutlak selisih diberi simbol
,
= Maks
F(
) –S(
).
g)
Kemudian
bandingkan
dengan nilai kritis L yang diperoleh dan
daftar nilai kritis untuk uji Liliefors pada taraf α yang dipilih, yang ada pada table pada taraf nyata yang
dipilih. Hipotesis diterima jika
≤
.
Kriteria
pengujiannya :
(1)
Jika
<
berarti data
sampel berdistribusi normal.
Uji
ini juga menggunakan bantuan softwere minitab dengan uji Anserson-Darling.
Jika masing-masing kelas terlihat pencaran titik-titik pada grafik berada dekat
dengan garis lurus dan P-value >
maka populasi
berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji normalitas masing-masing kelas,
terlihat bahwa pencaran titik-titik pada grafik berada dekat dengan garis lurus
dimana
= 0,05. Rata-rata dan P-value dari kelas populasi
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel
4. : Rata-Rata dan
P-Value Kelas Populasi
|
Kelas
|
VIII.A
|
VIII.B
|
VIII.C
|
VIII.D
|
|
Rat-Rata
|
42,19
|
43,66
|
47,97
|
42,80
|
|
P-Value
|
0.191
|
0.585
|
0.474
|
0.175
|
Jadi
dapat disimpulkan bahwa pupulasi berdistribusi normal, karena nilai P-Value
masing-masing kelas populasi tersebut besar dari taraf nyata yang ditetapkan (
= 0,05). Dapat dilihat pada lampiran II
3) Melakukan uji homogenitas variansi
dengan uji Bartlett. Uji ini bertujuan untuk melihat apakah populasi mempunyai
variansi yang homogen atau tidak.
Hipotesis yang diajukan yakni:
Ho = Keempat populasi
mempunyai varians yang sama
H1 = Keempat populasi
mempunyai varians yang tidak sama
Untuk menentukan uji homogenitas ini
dilakukan dengan beberapa langkah:
a)
Hitung k buah
ragam contoh s1, s2, …sk dari contoh-contoh
berukuran n1, n2, ...nk dengan
b)
Gabungkan semua
ragam contoh sehingga menghasilkan dugaan gabungan:

c)
Dari dugaan
gabungan tentukan nilai peubah acak yang mempunyai sebaran Bartlett:

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
Jika b ≥ bk (a;n) berarti homogen
Jika b < bk (a;n) berati tidak homogen.[8]
Uji
ini juga menggunakan bantuan softwere minitab dengan uji Bartlet. Dari
chart yang diperoleh dapat dilihat bahwa selang kepercayaan variansi
masing-masing kelas dalam populasi beririsan dan P-valuenya lebih besar
dari taraf nyata (
= 0,05). Dapat disimpulkan bahwa variansi populasi homogen.
Dapat dilihat pada lampiran III.
4) Melakukan analisis variansi untuk melihat
kesamaan rata-rata populasi. Analisis ini bertujuan untuk melihat apakah
populasi mempunyai kesamaan rata-rata atau tidak. Uji ini menggunakan teknik
anava satu arah[9]
yaitu:
Hipotesis yang diajukan adalah:
Ho : 
H1 : 
Langkah-langkah untuk melihat kesamaan rata-rata populasi
yaitu:
a)
Tuliskan hipotesis
nol Ho bahwa 
b)
Pilih hipotesis
tandingan H1 yang sesuai dari salah satu 
c)
Pilih taraf
keberartian berukuran 
d)
Pilih uji
statistik yang sesuai dan tentukan daerah kritisnya. (Bila keputusan akan
didasarkan pada suatu nilai-P maka tidaklah perlu menyatakan daerah kritis)
Uji statistik yang sesuai sebagai dasar
patokan keputusan ialah peubah acak
. Pembakuan
akan memudahkan dan disini menyangkut peubah acak Normal
Baku Z, yaitu:

e)
Hitunglah nilai
uji statistik dari data sampel
f)
Kesimpulan: Tolak
H0 bila uji statistik tersebut mempunyai nilai dalam daerah kritis
(atau, bila nilsi-P hitungan lebih kecil atau sama dengan taraf keberartian
yang ditentukan) sebaliknya, terima H0.
Analisis
variansi satu arah dilakukan juga dengan bantuan softwere minitab. Dari
hasil analisis dapat dilihat bahwa setiap garis yang dihasilkan oleh
masing-masing rataan saling beririsan dan P-value juga lebih besar dari taraf
nyata (
= 0,05) yaitu sebesar 0.651. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
populasi memiliki rata-rata yang sama. Dapat dilihat pada lampiran III.
5) Jika populasi berdistribusi normal,
mempunyai variansi yang homogen serta memiliki kasamaan rata-rata, maka diambil
sampel dua kelas secara loting dan yang terambil pertama adalah kelas
ditetapkan sebagi kelas eksperimen yaitu kelas VIIIc dengan jumlah siswa
sebanyak 25 orang dan kelas yang terambil kedua adalah kelas yang ditetapkan
sebagai kelas kontrol yaitu kelas VIIId dengan jumlah siswa sebanyak 27 orang.
Jika diperoleh populasi tidak berdistribusi normal, atau tidak homogen maka
pengambilan sampel yang digunakan yaitu selain random atau acak yaitu salah
satunya dengan cara Sampling Bertujuan (Purposive Sampling), yaitu teknik
sampling yang digunakan oleh peneliti yang mempunyai pertimbangan-pertimbangan
tertentu didalam pengambilan sampelnya.
4. Variabel dan
Data
a.
Variabel
Variabel
adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Variabel
dalam penelitian ini terdiri dari :
1)
Variabel bebas adalah perlakuan yang diberikan kepada
kelompok eksperimen yaitu penerapan bimbingan
tutor sebaya.
2)
Variabel terikat
adalah hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan bimbingan tutor sebaya
b.
Data
Data adalah hasil pencatatan
peneliti, baik berupa fakta ataupun angka. Jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder yaitu :
1)
Data primer yaitu data
yang langsung diambil dari sampel yang diteliti. Dalam hal ini data primer
yaitu data hasil belajar matematika siswa dengan bantuan tutor sebaya dan data aktivitas belajar matematika siswa
dengan bantuan tutor sebaya
2) Data sekunder yaitu data yang diperoleh
dari orang lain. Dalam hal ini data sekundernya adalah nilai mentah hasil ujian
semester 2 kelas VII mata pelajaran matematika tahun ajaran 2008/2009 dan data
tentang jumlah siswa beserta nama masing-masing kelas pada kelas VIII SMPN 1
Tanjung Emas tahun pelajaran 2009/2010.
c.
Sumber
Data
1)
Seluruh siswa kelas VIII
SMPN 1 Tanjung Emas Tahun Ajaran 2009/2010 yang terpilih sebagai sampel untuk
memperoleh data primer.
2)
Guru matematika SMPN 1
Tanjung Emas memperoleh data siswa kelas VIII yang terdaftar pada tahun
pelajaran 2009/2010
5.
Prosedur Penelitian
Secara umum prosedur penelitian
dapat dibagi atas tiga bagian yaitu :
a.
Tahap
Persiapan
1)
Menentukan populasi
dan sampel
2)
Menetapkan kelas
eksperimen dan kelas kontrol.
3)
Menetapkan jadwal
penelitian
Penelitian ini berlangsung selama
2 minggu di SMPN 1
Tanjung Emas. Dimulai dari tanggal 21 Juli sampai dengan 31 Juli 2009.
4)
Mempersiapkan
perangkat pembelajaran (RPP, media) dan LKS untuk kelas VIIIc dengan materi
bentuk aljabar.
5)
Mempersiapkan instrument
penelitian berupa soal tes akhir yang diberikan pada akhir pokok bahasan, soal
ini divaliditasi oleh dosen dan guru matematika
6)
Mempersiapkan lembar
observasi
7) Menetapkan
observer. Dimana observer disini adalah guru matematika
8) Melaksanakan uji coba. Uji coba soal
tes akhir dilakukan di MTSN Pasie
Laweh Kecamatan Sungai Tarab.
b.
Tahap
Pelaksanaan
Proses
pembelajaran di kedua kelas dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran
yang berbeda. Untuk kelas eksperimen menggunakan metode pambelajaran dengan
bantuan bimbingan tutor sebaya, sedangkan untuk kelas kontrol menggunakan
metode dengan pembelajaran konvensional.
Untuk
lebih jelasnya pada tahap ini dilaksanakan beberapa kegiatan sebagai berikut:
1)
Kelas Eksperimen
a)
Persiapan
b) Pelaksanaan
Pelaksanaan
penelitian ini berlangsung selama 5 kali pertemuan yaitu tanggal 23, 24, 27, 30, 31 Juli 2009. Tanggal 23
sampai tanggal 30 Juli 2009 digunakan untuk melaksanakan pembelajaran dengan
bantuan tutor sebaya dalam kelompok belajar serta melihat aktivitas siswa
selama pembelajaran kelompok berlangsung. Sedangkan tanggal 31 Juli 2009
digunakan untuk memberikan tes akhir pada kedua kelas sampel, satu pertemuan
selama 2 jam pelajaran yaitu 80 menit. Dimana Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dilakukan selama penelitian
adalah:
(1) Pendahuluan (5 Menit)
(2) Kegiatan Inti (70 Menit)
(a) Guru menjelaskan materi pelajaran
kepada siswa (15 menit)
(b) Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok
secara heterogen (memiliki akademik tinggi, sedang dan rendah) yang
beranggotakan 5 orang
(c) Guru memberikan LKS kepada siswa
(d) Siswa berdiskusi dalam mengerjakan LKS
dengan bimbingan tutor sebaya dalam kelompok belajar (40 menit)
(e) Dalam mengerjakan LKS, siswa yang
ditunjuk sebagai tutor oleh guru membantu siswa yang kesulitan dalam
menyelesaikan LKS tersebut.
(f) Guru mendampingi dan membimbing siswa
dalam mengerjakan LKS.
(g) Setelah waktu yang diberikan untuk
mengerjakan LKS selesai, maka apabila
ada siswa yang masih kurang mengerti dengan penjelasan tutor dalam kelompoknya,
maka guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menjawabnya. (10 Menit)
(h) Jika tidak ada kelompok lain yang bisa
menjawabnya, maka guru membimbing dan mengarahkan mereka untuk bisa
menyelesaikan materi tersebut. (5 Menit)
(i) Guru memberikan penghargaan / reward
kepada siswa / kelompok yang pantas mendapatkannya.
(3) Penutup (5 Menit)
Guru
menutup pelajaran dan memberikan tugas baca kepada siswa-siswa untuk materi
yang akan datang.
2)
Kelas Kontrol
a)
Pendahuluan (10 Menit)
Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa.
b)
Kegiatan Inti (70
Menit)
(1)
Guru menjelaskan
materi pelajaran secara umum di depan kelas
(2)
Siswa mencatat materi
yang telah dijelaskan oleh guru
(3)
Guru
memberikan contoh soal yang berkaitan dengan materi hari itu.
(4)
Guru memberikan
latihan kepada siswa
(5)
Siswa membuat latihan
(pembelajaran secara konvensional).
(6)
Setelah siswa membuat
tugas guru bersama siswa merangkum materi hari itu.
(7)
Guru memberikan tugas
baca untuk materi pada pertemuan besok dan PR kepada siswa
c.
Tahap Penyelesaian
Memberikan tes akhir pada kedua
kelas, di mana pada kelas eksperimen telah dilaksanakan tutor sebaya. Dan pada kelas kontrol
dilaksanakan pembelajaran konvensional dilakukan oleh guru saat pembelajaran
matematika di kelas VIII SMP N 1 Tanjung
Emas.
6.
Instrument
Penelitian
Untuk
mengumpulkan data, peneliti menggunakan beberapa instrument penelitian yaitu:
Lembar Kerja Siswa (LKS), lembar observasi, dan tes akhir. Untuk lebih rincinya
instrument penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:
a.
Lembar Kerja Siswa
(LKS)
Lembar kerja siswa (LKS) digunakan
untuk membimbing siswa dalam memahami materi hari itu. LKS tersebut berisi
sedikit penjelasan materi dan soal-soal latihan. LKS diberikan kepada kelas
eksperimen. Sebelum LKS dapat digunakan oleh peneliti dalam penelitian,
sebelumnya sudah divalidasi oleh Dosen dan guru matematika SMPN 1 Tanjung Emas.
b. Lembar Observasi
Lembar
observasi digunakan untuk pengamatan sikap, aktivitas dan kegiatan
masing-masing siswa dalam belajar matematika dengan bantuan tutor sebaya dalam
belajar kelompok selama proses penelitian dilakukan. Dalam penyusunan lembaran
observasi digunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Menentukan indikator-indikator
penelitian terhadap aktivitas belajar siswa yang diamati selama pembelajaran
berlangsung.
2) Merancang lembaran observasi yang
digunakan.
3) Memvalidasi lembaran observasi yang
akan digunakan, dimana hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah lembaran
observasi yang akan digunakan oleh peneliti sudah layak atau belum digunakan.
Indikator
aktivitas yang peneliti lihat dalam penelitian ini adalah:
Tabel 4. Indikator-Indikator Aktivitas
Siswa
|
No
|
Jenis Aktivitas
|
Indikator
|
|
1
|
Visual Activities
|
Memperhatikan
penjelasan guru
|
|
2
|
Oral Activities
|
a.
Mengajukan
pertanyaan kepada temannya (tutor)
jika tidak paham dalam kelompok.
b.
Menyampaikan ide
atau gagasan kepada tutor dalam menyelesaikan LKS dalam kelompoknya.
|
|
3
|
Writing Activities
|
Siswa
mencatat materi yang disampaikan oleh
tutor dan guru
|
|
4
|
Mental Activities
|
Kemampuan
siswa dalam mengerjakan LKS dalam kelompoknya dengan bantuan tutor sebaya
|
Lembar
observasi ini diisi pada setiap kali pertemuan oleh seorang observer. Lembaran observasi ini dilihat seberapa jauh
peningkatan atau penurunan aktivitas siswa dalam belajar matematika dengan
bantuan tutor sebaya dalam kelompok belajarnya.
c. Tes
Soal
yang diujikan untuk tes akhir dibuat dalam bentuk essay dengan materi Bentuk
Aljabar. Untuk mendapatkan kualitas soal yang baik maka dilakukan beberapa
langkah sebagai berikut:
1) Membuat kisi-kisi soal berdasarkan
Kurikulum Kompetensi Satuan Pelajaran (KTSP).
2) Membuat butir-butir soal dengan
kisi-kisi soal tes yang telah dibuat, kisi-kisi soal tes pada lampiran VIII.
3) Validasi soal tes yang dibuat peneliti
oleh Dosen dan Guru matematika kelas VIII SMP 1 Tanjung Emas.
4) Setelah soal divalidasi oleh Dosen dan
satu orang guru matematika di SMPN 1 Tanjung Emas, soal diujicobakan kepada
siswa kelas VIIIb SMPN 4 Parambahan yaitu pada tanggal 29 Juli 2009. Kelas ini
diambil karena rata-rata nilai semester 2 kelas VII
Tahun Pelajaran 2008/2009 (setelah dikelompokkan berdasarkan kelasnya yang
sekarang yaitu kelas VIIIb) berdistribusi normal dengan kelas sampel dan P-Value
> α , dimana P-Value = 000 yang
berarti kedua kelas kemampuannya tidak berbeda signifikan. Untuk mendapatkan
tes yang baik, maka dilakukan langkah sebagai berikut:
a)
Daya
Pembeda Soal
Daya pembeda soal adalah kemampuan
soal untuk membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang
berkemampuan rendah.[10]
Untuk mengetahui daya pembeda soal, terlebih dahulu dengan mencari indeks
pembeda soal dengan cara sebagi berikut :
(1)
Data diurutkan
dari nilai tertinggi sampai nilai yang terendah
(2)
Kemudian diambil
27% dari kelompok yang mendapat nilai tinggi dan 27% dari kelompok yang
mendapat nilai rendah.
(3)
Hitung degress of freedom (df) dengan
rumus :
df
=
(n
-1 ) + ( n
- 1)
n
= n
= 27 % x N =
n
(4)
Cari indeks
pembeda soal dengan rumus :
I
= 

Ket :
I
:
Indeks pembeda soal
M
: Rata-rata skor kelompok
rendah
M
: Rata-rata skor kelompok tinggi
n : 27 % x N
N
: Banyak peserta tes
Suatu
soal mempunyai daya pembeda yang berarti (signifikan) jika I
hitung
I
tabel
pada df yang telah ditentukan.
Setelah
dilakukan analisis daya beda pada soal tes uji coba tersebut, maka diperoleh
daya pembeda soal tersebut berkisar antara 2.24 sampai dengan 8.87 dengan
kriteria untuk semua soal adalah signifikan. Dari analisis tersebut, tidak ada
soal yang direvisi kembali atau semua soal dipakai untuk soal tes. Untuk lebih
jelasnya juga dapat dilihat pada lampiran 18
halaman Hasil perhitungan
analisis daya pembeda soal secara lengkap dapat dilihat pada lampiran XI.
b)
Indeks Kesukaran Soal
Asnelly
Ilyas sebuah butir soal dikatakan baik adalah apabila tingkat kesukaran dapat
diketahui tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah.[11] Sebab tingkat kesukaran item itu
memiliki korelasi dengan daya pembeda. Bila item memiliki tingkat kesukaran
maksimal, maka daya pembeda akan rendah, demikian pula bila item itu terlalu
mudah juga tidak akan memiliki daya pembeda.
I
= 
Ket :
I
:
Indeks kesukaran soal
D
: Jumlah skor dari kelompok tinggi
D
: Jumlah skor dari kelompok rendah
m : Skor
setiap soal benar
N : Banyak
peserta tes
n : 27% x N
Dengan kriteria :
I
< 27% Soal
sukar
27 % 
Soal sedang
I
> 73 % Soal mudah
Setelah
dilakukan analisis soal tes uji coba tersebut, tingkat kesukarannya berkisar
antara 18 % sampai dengan 75%, dengan soal sukar sebanyak 1 buah, soal sedang
sebanyak 6 buah dan soal mudah sebanyak 1 buah. Untuk lebih jelasnya perhitungan indeks kesukaran soal uji
coba dapat dilihat pada lampiran 18 halaman 155
c) Klasifikasi Soal
Klasifikasi
soalnya dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut[13]:
(1)
Item dipakai jika
Ip signifikan dan 0%≤Ik≤100%
(2)
Item diperbaiki
jika:
(a)
Ip signifikan dan
Ik 0% atau Ik = 100%
(b)
Ip tidak
signifikan dan 0%<Ik<100%
(3)
Item diganti jika
Ip tidak signifikan dan Ik = 0 % atau Ik = 100%
Berdasarkan
analisis soal uji coba pada lampiran XII diperoleh Ip signifikan dan Ik mudah,
sedang dan sukar, sehingga semua soal dipakai.
d) Reliabilitas Tes
Reabilitas
tes adalah suatu ukuran apakah tes tersebut dapat dipercaya. Suatu tes
dikatakan reable apabila beberapa
ahli pengujuan menunjukan hasil yang reable
sama. Untuk menentukan koefisien reabilitas digunakan rumus alpha yang dinyatakan oleh Suharsimi Arikunto.[14] :
r
= (
)(
)
Keterangan :
r
: Reabilitas yang dicari
n
: Jumlah butir soal
Dengan
Kriteria sebagai berikut :
0.90
r
1.00 Reabilitas tinggi sekali
0.70
r
< 0.90 Reabilitas
tinggi
0.40
r
< 0.70 Reabilitas
cukup
0.20
r
< 0.40 Rebilitas
rendah
0.00
r
< 0.20 Reabilitas
sangat rendah sekali
Nilai
r di peroleh dibandingkan dengan r
.
Jika r
>
r
maka dapat disimpulkan bahwa soal tes
reliabel. Dengan menggunakan tabel produc moment pada lampiran XIV di dapat rhitung
= 0, 71 sedangkan rtabel = 0, 423. Jadi rhitung >
rtabel berada pada kriteria tinggi. Hal ini menandakan bahwa
reliabilitas tes berarti.
Setelah
dilakukan analisis reliabilitas dengan rumus diatas, maka diperole rhitung
sebesar 0,71. Kemudian dapat dilihat bahwa rhitung tersebut
lebih besar dari pada rtabel yaitu 0,527 untuk
interval kepercayaan 99 % dan rtabel lebih besar juga dari 0,423
untuk interval kepercayaan 95 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tes
tersebut memiliki koefisien stabilitas yang cukup signifikan dan berarti tes
memiliki reliabilitas internal yang tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada lampiran 20 dan Tabel Harga Kritik Dari r
Produk Moment pada lampiran 27 halaman 167
7.
Teknik Analisis Data
a.
Lembar Observasi
Persentase siswa yang aktif dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut[15]:
Keterangan:
P% :
Persentase aktivitas
F : Frekuensi aktivitas
N : Jumlah Siswa
Penilain
aktivitas dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut[16]:
1% - 25% : Sedikit sekali
26% - 50% : Sedikit
51% - 75% : Tinggi
76% - 99% : Tinggi sekali
b.
Tes
Hasil Belajar
Untuk
menarik kesimpulan maka dilaksanakan pengujian hipotesis secara statistik.
Untuk melakukan uji statistik maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan
uji homogenitas variansi kedua kelompok data.
1)
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk
mengetahui apakah kedua kelompok data berdistribusi normal atau tidak. Uji ini
dilakukan dengan menggunakan uji Liliefors yang dikemukakan oleh Sudjana dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
a)
Menyusun skor hasil belajar siswa dalam
suatu tabel skor, disusun dari yang terkecil sampai yang terbesar.
b)
Mencari skor baku
dan skor mentah dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
S = Simpangan baku
X = Skor dari tiap siswa
c)
Dengan menggunakan
daftar dari distribusi normal baku dihitung peluang
d)

e)
Menghitung jumlah proporsi skor baku yang lebih kecil
atau sama
yang dinyatakan dengan
S(
) dengan menggunakan rumus :
f)
Menghitung selisih
antara F(
) dengan S(
) kemudian
tentukan harga mutlaknya.
g)
Ambil harga mutlak
yang terbesar dan harga mutlak selisih diberi simbol
.
h)
Kemudian
bandingkan
dengan nilai
Ltabel dengan taraf nyata α = 0.05 jika
<
maka data berdistribusi normal.[17]
2)
Uji Homogenitas
Variansi
Uji homogenitas bertujuan untuk
melihat apakah kedua kelompok data mempunyai variansi hoogen atau tidak. Untuk
mengujinya digunakan uji F, misalnya kita mempunyai dua populasi normal dengan
variansi
akan diuji hipotesis :
rumus yang digunakan untuk menguji hipotesi ini adalah :
Keterangan
:
Kriteria
pengujian adalah terima hipotesis
jika
:
Dimana :

Maka dikatakan kedua kelompok data
mempunyai variansi yang homogen.[18]
3)
Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk
menentukan apakah hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen lebih baik
dari pada kelas kontrol. Dengan hipotesis yaitu, H
:
=
dan H
=
>
dengan
merupakan rata-rata
hasil belajar matematika kelas eksperimen dan
merupakan rata-rata hasil
belajar matematika kelas kontrol. Maka untuk menguji hipotesis ini digunakan uji-t satu arah dengan bantuan
software MINITAB
Berdasarkan
uji normalitas dan uji homogenitas variansi ada beberapa rumus untuk menguji
hipótesis yaitu:
a)
Jika
skor hasil belajar siswa berdistribusi normal dan data berasal dari sampel yang
bervariansi homogen, maka rumusnya:

Keterangan:
s = Simpangan baku gabungan
Dengan kriteria pengujian sebagai
berikut:
Derajat kebebasan (dk) = 
Jika α, maka
diterima dan
ditolak
Kriteria uji-t dengan MINITAB yaitu
tolak
jika P<α
b)
Jika
populasi berdistribusi normal dan kedua kelompok data tidak mempunyai variansi
yang homogen, maka rumusnya:

Kriteria
pengujiannya adalah:
Dan
tolak
jika terjadi
sebaliknya.[19]
c)
Jika
sampel tidak berdistribusi normal maka digunakan uji U Mann Whitney dengan
langkah-langkah sebagai berikut[20]:
(1) Menentukan nilai
dan
dimana
adalah jumlah data
cuplikan terkecil diantara dua kelompok cuplikan, sedangkan
adalah jumlah data cuplikan terbesar
(2) Buat ranking gabungan dari kedua
kelompok tersebut, mulai dari satu sampai N =
+ 
(3) Hitung nilai U dengan mempergunakan
metode perhitungan U dengan menggunakan rumus:

Dimana
adalah jumlah ranking
yang diberikan pada kelompok yang ukuran sampelnya
dan
adalah jumlah ranking
yang diberikan pada kelompok yang ukuran sampelnya
.
(4) Untuk menetapkan kesignifikanan harga
U, maka hitung harga Z dengan rumus:

Keterangan:
U = Harga U terkecil
n = Jumlah data cuplikan
(5) Jika nilai U mempunyai peluang sama
atau lebih kecil dari 
Kriteria uji-t
dengan MINITAB yaitu tolak
jika
P<α
BAB II
KERANGKA
TEORITIS
A. Kajian
Teori
1. Belajar Mengajar Matematika
Belajar dan mengajar merupakan dua hal yang tidak bisa
dipisahkan. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai
subyek yang menerima pelajaran (sasaran didik), sedangkan mengajar menunjuk
pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. Dua konsep tersebut
menjadi terpadu dalam satu kegiatan manakala terjadi interaksi guru – siswa,
siswa – siswa pada saat pengajaran itu berlangsung. Jadi belajar mengajar
merupakan dua kegiatan yang sama pentingnya. Keduanya mempunyai tujuan yang
sama dan searah, yaitu untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan
pembelajaran. yang Slameto menjelaskan bahwa :
“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”[21].
Belajar merupakan suatu kegiatan aktif dimana individu akan mengalami
perubahan bila melakukan pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Nana
Sudjana bahwa “belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri seseorang”[22].
Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk
seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya,
keterampilannya, dan lain-lain.
Sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan
lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang
secara optimal.
Dari pengertian di atas tampak bahwa konsep tentang
belajar mengandung tiga (3) unsur utama, yaitu:
a.
Belajar
berkaitan dengan perubahan tingkah laku
b.
Perubahan
perilaku terjadi karena didahului oleh proses pengalaman
c.
Perubahan
perilaku karena belajar bersifat relatif permanen.
Jadi
belajar adalah proses perubahan perilaku individu yang berasal dari pengalaman
(terjadi sebagai akibat dari interaksi individu dengan lingkungan) dan
berlangsung selama periode tertentu. Untuk itu perlunya kita menyusun sendiri.
Dari uraian
tentang belajar di atas, dapat diambil kesimpulan betapa pentingnya proses
belajar dan kehidupan manusia. Untuk itu kita perlu mengetahui prinsip-prinsip
belajar.
Dalam hal
ini Slameto mengemukakan prinsip-prinsip belajar, sebagai berikut[23]:
a.
Dalam
belajar setiap siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif meningkatkan minat
dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional
b.
Belajar
bersifat keseluruhan dan materi itu memiliki struktur, penyajian yang sederhana
sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya
c.
Belajar
harus dapat menimbulkan reinforcement dan
motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional
d.
Belajar
itu proses kontinu maka harus tahap demi tahap menurut discovery
e.
Belajar
adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery
f.
Belajar
harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional
yang harus dicapai
g.
Belajar
memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang
h.
Belajar
perlu lingkungan yang menantang, dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya
ber-eksplorasi dan belajar dengan efektif
i.
Belajar perlu ada interaksi siswa dan lingkungan
Berdasarkan pendapat Slameto di atas dapat disimpulkan
betapa pentingnya proses belajar itu. Kemudian belajar matematika itu adalah
belajar tentang konsep-konsep dan struktur yang terdapat dalam bahasan yang
dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan stuktur
tersebut.
Belajar matematika menurut paham konstruktivis adalah
proses dimana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika.
Matematika adalah ilmu yang sangat mendasar sekali yang mana dengan belajar
matematika dapat menunjang kemajuan ilmu pengetahuan. Semakin maju ilmu pengetahuan maka semakin banyak
dibutuhkan ilmu matematika ini. Dan matematika ini dapat membantu manusia dalam
hidupnya.
Sesuai
dengan yang dikatakan oleh Kline dalam Erman Suherman bahwa: ”Matematika itu
bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri,
tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan
menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam”. [24]
Kegiatan
belajar mengajar merupakan pokok dalam proses pendidikan dalam dunia
pendidikan. Dan dengan belajar mengajar ini terjadinya interaksi guru dengan
siswa dan siswa dengan siswa. Dalam mewujudkan interaksi yang baik maka perlu
juga adanya komunikasi yang baik agar tercapainya tujuan pembelajaran seperti
yang dikemukakan oleh Sudjana[25] yaitu:
Ada tiga pola komunikasi
yang dapat digunakan untuk mengembangkan interaksi dinamis antar guru dengan
siswa yaitu:
a.
Komunikasi
sebagai aksi atau komunikasi satu arah
b.
Komunikasi
sebagai interaksi atau komunikasi dua arah
c. Komunikasi
banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi.
2.
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran dengan kelompok. Pembelajaran dengan
kooperatif menuntut siswa saling kerjasama untuk meyelesaikan suatu tugas.
Kooperatif sebagai model pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok-kelompok
kecil yang terdiri dari siswa yang berkemampuan heterogen (siswa berkemampuan
akademik tinggi, sedang dan rendah). Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif
adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara
aktif dalam proses berfikir dan kegiatan belajar.
Ciri-ciri
pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a.
Setiap
anggota mempunyai peran
b.
Terjadi
hubungan interaksi langsung diantara siswa
c.
Setiap
anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman
sekelompok
d.
Peran
guru membantu para siswa untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan
interpersonal
e.
Guru
hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.[26]
Berdasarkan
pendapat di atas, pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran secara
berkelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari kemampuan heterogen.
Walaupun demikian anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama, apakah itu untuk
mempelajari suatu materi, melengkapi tugas-tugas dan menyelesaikan suatu suatu
masalah. Keberhasilan dan kegagalan suatu kelompok ditentukan oleh kerjasama
antar anggota, maka semua anggota harus bekerjasama dalam menyelesaikan suatu
masalah.
Dalam hal
ini ada tiga konsep utama yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif
yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang
sama untuk berhasil.
a.
Penghargaan
kelompok
Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan
kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh
jika kelompok mencapai skor diatas kriteria yang ditentukan.
b.
Pertanggungjawaban
individu
Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran
setiap anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitikberatkan kepada
aktivitas anggota kelompok yang saling mendukung, saling membantu dan saling
peduli.
c.
Kesempatan
yang sama untuk berhasil
Pembelajaran kooperatif menggunakan metode
penskoran untuk menentukan nilai perkembangan individu. Nilai perkembangan ini
berdasarkan pada peningkatan skor tes yang diperoleh siswa dari tes yang
terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap siswa yang berprestasi
rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan
berbuat sesuatu yang terbaik bagi kelompok.[27]
Pembelajaran
kooperatif memungkinkan siswa untuk belajar kelompok dan saling berbagi dengan
teman-temannya. Setiap
anggota dituntut untuk mengeluarkan ide-ide atau gagasan-gagasan untuk memahami
materi tersebut.
Untuk
mencapai hasil yang maksimal ada lima (5) unsur yang perlu diterapkan dalam
pembelajaran kooperatif yaitu:
a.
Saling
ketergantungan
Bila terdapat saling ketergantungan positif diantara
anggota kelompok maka akan tercipta kerjasama yang dapat meningkatkan pemahaman
terhadap materi. Disamping itu siswa juga akan merasa bahwa mereka akan saling
membutuhkan untuk memcapai suatu tujuan
b.
Tanggungjawab
perorangan
Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk
belajar dan menyelesaikan suatu tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini perlu
dilakukan demi keberhasilan kelompok atas nama bersama
c.
Tatap
muka
Setiap anggota kelompok diberi kesempatan untuk
bertatap muka dan berdiskusi. Interaksi ini akan memberikan kesempatan kepada
siswa untuk membentuk sikap yang menguntungkan semua anggota
d.
Komunikasi
antar kelompok
Keberhasilan kelompok juga bergantung kepada
kesediaan anggotanya untuk menjelaskan dan memberi pendapatnya. Dengan kata
lain untuk mendapatkan hasil yang maksimal tiap anggota dalam suatu kelompok
harus saling berbicara dalam mendiskusikan masalah yang dihadapinya.
e.
Evaluasi
proses kelompok
Anggota-anggota kelompok akan menilai kembali
usaha mereka dan kemajuan kelompok dari segi pencapaian hasil dan untuk
selanjutnya bisa bekerjasama dengan lebih efektif.[28]
Untuk
menerapkan model pembelajaran kooperatif, perlu diperhatikan langkah-langkah
pembelajannya yaitu sebagai berikut:
Tabel. 5 Langkah-langkah
Model Pembelajaran Kooperatif[29]
|
Fase
|
Tingkah Laku Guru
|
|
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Fase-2
Menyajikan informasi
Fase-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok-kelompok belajar
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Fase-5
Evaluasi
Fase-6
Memberikan penghargaan
|
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau
lewat bahan bacaan
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok
belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mareka mengerjakan
tugas mereka
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau
masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar
individu dan kelompok.
|
Menurut Lungren dalam
Ibrahim pembelajaran kooperatif sangat bermanfaat bagi siswa yang hasil
belajarnya rendah, diantara manfaat tersebut adalah:
a.
Meningkatkan
pencurahan waktu pada tugas.
b.
Rasa
harga diri menjadi lebih tinggi.
c.
Memperbaiki
sikap terhadap IPA dan sekolah
d.
Memperbaiki
kehadiran.
e.
Anak
putus sekolah menjadi rendah.
f.
Penerimaan
terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar.
g.
Perilaku
mengganggu lebih kecil.
h.
Konflik
antar pribadi menjadi berkurang.
i.
Sikap
apatis berkurang
j.
Pemahaman
yang lebih mendalam
k.
Motivasi
lebih besar
l.
Hasil
belajar tinggi
m.
Retensi
lebih lama
n.
Meningkatkan
kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.[30]
3.
Pembelajaran Dengan Tutor Sebaya
Kemampuan
siswa dalam memahami pelajaran matematika berbeda-beda antar anak. Ada yang
cepat menangkap apa yang di sampaikan oleh guru dan ada juga yang lemah.
Penyebabnya berbeda-beda juga antar anak. Apabila dibiarkan terus-menerus itu
akan mengakibatkan siswa tidak berhasil dalam belajar. Sebagaimana yang
dijelaskan oleh Slameto bahwa kemampuan murid untuk menguasai suatu bidang
studi banyak bergantung pada kemampuannya untuk memahami ucapan guru.[31]
Berdasarkan
pengertian di atas, jelas bahwa gurulah yang mempengaruhi proses belajar siswa
untuk memahami pelajaran. Maka untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan
dalam memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru maka guru dapat menerapkan
dan menciptakan suatu ide atau alternatif agar kesulitan-kesulitan siswa dalam
memahami pelajaran dapat teratasi dengan menerapkan pembelajaran dengan bantuan
Tutor Sebaya. Seperti yang diungkapkan oleh Dedi Supriyadi dalam Erman
Suherman bahwa: ”Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk
dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor
tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya yang lebih tinggi”.[32]
Hal senada
juga di jelaskan oleh Ischak dan Warji
dalam Erman Suherman ia mengemukakan
bahwa: ”Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan
pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam
memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya”.[33]
Berdasarkan
pengertian–pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tutor teman sebaya
adalah sumber belajar sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar
kepada teman-teman sekelasnya di sekolah. Bantuan belajar yang diperoleh dari teman
sebaya dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah
dipahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan
sebagainya untuk bertanya ataupun minta bantuan.
Untuk
menentukan siapa yang akan dijadikan tutor sebaya, diperlukan pertimbangan-pertimbangan
tersendiri. Seorang siswa yang dijadikan tutor sebaya belum tentu yang paling
pandai. Yang penting diperhatikan siapa yang akan dijadikan tutor tersebut
adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain[34]
adalah:
a.
Dapat
diterima (disetujui) oleh siswa dalam kelompoknya. Sehingga siswa tersebut
tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya.
b.
Dapat
menerangkan bahan yang diperlukan oleh siswa.
c.
Tidak
tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama teman.
d.
Mempunyai
daya kreativitas yang cukup untuk me,berikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan
pelajaran kepada temannya.
Untuk
memperoleh siswa yang memenuhi berbagai persyaratan di atas memang sukar. Akan
tetapi, hal ini dapat diatasi dengan jalan memberikan petunjuk sejelas-jelasnya
tentang apa yang harus dilakukan.
Ada
beberapa manfaat dari kegiatan tutoring ini, yaitu:
a.
Ada
kalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa anak yang mempunyai perasaan takut
atau enggan kepada guru.
b.
Bagi
tutor, pekerjaan tutoring akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang akan
dibahas. Dengan memberitahukan kepada anak lain, maka seoalah-olah ia menelaah
serta menghafalnya kembali.
c.
Bagi
tutor merupakan kesempatan untuk berlatih diri memegang tanggung jawab dalam
mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran.
d.
Memperkuat
hubungan antara sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.[35]
Namun,
disamping kebaikan tersebut ada kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan ini,
karena :
a.
Siswa
yang dibantu sering belajar kurang serius, karena hanya berhadapan dengan
kawannya, sehingga hasilnya kurang memuaskan.
b.
Ada
beberapa anak yang menjadi malu bertanya, karena takut rahasianya diketahui
oleh kawanya.
c.
Pada
kelas-kelas tertentu pekerjaan tutoring ini sukar dilaksanakan, karena
perbedaan kelamin antara tutor dengan siswa.
d.
Bagi
guru sukar untuk menentukan seorang tutor yang tepat bagi seorang atau beberapa
orang siswa yang harus dibimbing.
e.
Tidak
semua siswa yang pandai atau cepat waktu belajarnya dapat mengerjakannya
kembali pada kawan-kawannya.[36]
Walaupun
pelaksanaan ini juga ada kelemahannya, guru dapat meminimalisasikannya dengan
pemantauan yang ketat sehingga pelaksanaan ini sesuai dengan apa yang
diharapkan.
Tugas
sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang justru
sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri. Dalam persiapan ini antara
lain mereka berusaha mendapatkan hubungan dan pergaulan baru yang mantap dengan
teman sebaya mencari perannya sendiri, mengembangkan kecakapan intelektual dan
konsep-konsep yang penting, mendapatkan tingkah laku yang bertanggung jawab
secara sosial.
Pembelajaran
dengan tutor sebaya dengan demikian beban yang diberikan kepada mereka akan
memberi kesempatan untuk mendapatkan perannya, bergaul dengan orang lain dan
bahkan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.
4.
Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar
Kerja Siswa (LKS) adalah suatu lembaran yang berupa satu, dua atau lebih yang
mana berisikan materi pelajaran dan disajikan dalam bentuk tugas, soal-soal
yang harus dikerjakan oleh siswa pada lembar itu. Penggunaan lembar kerja siswa
(LKS) dalam pengajaran matematika sangat berarti sekali karena dapat membantu
siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Karena LKS mengandung tuntunan bagi
siswa yang menggunakannya, sehingga kegiatan yang dilakukan lebih terarah dan
terbimbing dan sesuai dengan tujuan pelajaran yang hendak dicapai.
Adanya LKS ini
dalam proses pembelajaran matematika dapat menjadikan siswa aktif dan tidak
menjadi bosan dalam belajar sehingga dapat meningkatkan potensi belajar.
Dalam bahan
Tim PPPG matematika Yogyakarta pun menyebutkan bahwa kegunaan Lembar Kerja
Siswa (LKS) adalah:
a.
Merupakan
alternatif bagi guru untuk mengarahkan pengajaran atau memperkenalkan suatu
kegiatan tertentu (konsep, prinsip, atau skill) sebagai variasi kegiatan pembelajaran.
b.
Menghemat
waktu penyajian karena dapat mempercepat proses pengakaran.
c.
Memudahkan
penyelesaian tugas perorangan, kelompok atau klasikal, karena siswa dalam
menyelesaikan tugas itu sesuai dengan kecepatannya.
d.
Meringankan
kerja guru dalam memberi bantuan perorangan atau meremedi terutama untuk
mengelola kelas yang besar.
e.
Siswa
atau kelompok dapat menggunakan alat bantu itu secara bergiliran dari bahan
yang tersedia.
f.
Dapat
membangkitkan minat siswa, jika lembar kerja berstruktur itu disusun secara menarik.[37]
Berdasarkan
kegunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) di atas dapat disimpulkan bahwa LKS sangat
membantu siswa maupun guru dalam proses pembelajaran di kelas maupun di luar
kelas, sehingga dapat menambah pengalaman siswa dan motivasi siswa.
5. Aktivitas
Siswa Dalam Belajar
Pada proses belajar aktivitas siswa sangat diperlukan,
karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah
laku, jadi belajar adalah melakukan suatu kegiatan. Tidak ada belajar kalau
tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip yang sangat
penting dalam interaksi belajar-mengajar. Di dalam aktivitas belajar ada
beberapa prinsip yang dikemukakan oleh
Sardiman[38].
Prinsip ini berorientasi pada pandangan ilmu jiwa :
a. Pandangan
ilmu jiwa lama. Menurut pandangan ini aktivitas didominasi oleh guru.
b. Pandangan
ilmu jiwa modern. Pandangan ini aktivitas siswa didominasi oleh siswa.
Dalam hal kegiatan belajar ini, segala pengetahuan itu
harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan
sendiri, bekerja sendirin dengan fasilitas yang diciptakan sendiri baik secara
rohani maupun secara teknis.
Berbagai
aktivitas dilakukan dalam proses pembelajaran. Aktivitas siswa tidak cukup
dengan hanya mendengar saja, mencatat, dan mengerjakan tugas saja. Menurut Paul
B. Deidrich dalam Sardiman A.M[39] yang menyatakan bahwa : Kegiatan siswa
antara lain dapat digolongkan sebagai berikut :
a.
Visual
activities (aktivitas mental) yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca,
memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
b.
Oral
activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi dan interupsi.
c.
Listening
activities sebagai contoh mendengarkan:
uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d. Writing
activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket,
menyalin.
e. Drawing
activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f. Motor
activities, yang termasuk di dalamnyaantara lain: melakukan percoban, membuat
konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
g. Mental
activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal,
menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h. Emotional
activities, seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira,
bersemangat, bergairah, berano,tenang, gugup.
Karena keterbatasan waktu dan tenaga yang peneliti
miliki maka aktivitas siswa yang diamati dalam penelitian ini adalah :
a. Visual
dan listening activities yaitu aktivitas siswa dalam memperhatikan penyampaian
materi dan penyelesaian soal oleh guru dan tutor.
b. Oral
activities melalui aktivitas siswa dalam memberikan pertanyaan, tanggapan, dan
menjawab pertanyaan yang disajikan padanya pada proses pembelajaran berlangsung
dan membantu siswa / temannya dalam menyelesaikan LKS.
c. Mental
activities melalui aktivitas ini siswa berlatih kecepatan, kemampuan mereka
untuk menyerap informasi dari materi yang diberikan.
d. Writing
activities melalui ketekunan siswa dalam menyelesaikan soal dengan baik.
Berdasarkan pendapat di atas jelas bahwa aktivitas
siswa sangat diperlukan dalam proses belajar. Tetapi kenyataannya dilapangan
banyak siswa yang pasif, siswa lebih banyak mendengarkan, mencatat ringkasan
materi yang diberikan guru di papan tulis atau dibacakan. Sehingga hal tersebut
membuat siswa tidak kreatif baik dari segi bicara atau berbuat.
6. Pembentukan
Kelompok Belajar
Kelompok belajar adalah suatu tindakan yang dilakukan
oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dimana dalam kelompok belajar
ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang nantinya mereka saling bekerja
sama untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Untuk mencapai hasil
yang baik dalam pelaksanaan kerja kelompok ini, maka faktor-faktor yang harus
diperhatikan adalah:
a. Perlu
adanya motif (dorongan) yang kuat untuk bekerja pada setiap anggota.
b. Pemecahan
masalah dapat dipandang, sebagai satu unit dipecahkan bersama, atau masalah
dibagi-bagi untuk dikerjakan masing-masing.
c. Persaingan
yang sehat antar kelompok biasanya mendorong anak untuk belajar
d. Situasi
yang menyenangkan antar anggota banyak menentukan berhasil tidaknya kerja
kelompok. [40]
Berdasarkan faktor-faktor di atas kita dapat
melaksanakan pembelajaran tutor sebaya dengan kerja kelompok. Dimana siswa
nantinya diberi kan
masing-masing LKS untuk nantinya dikerjakan bersama-sama dalam kelompoknya yang
di Bantu oleh tutor. Sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat
setelah melaksanakan pembelajaran dengan bantuan kerja kelompok..
7. Pembelajaran
Konvensional
Berdasarkan Kamus Besar
Bahasa Indonesia konvensional berarti tradisional. Jadi pembelajaran
konvensional dapat juga disebut pembelajaran yang dilaksanakan secara tradisional. Menurut Dave
Meier menyatakan bahwa:
Pembelajaran
tradisional diera industri cendrung menekankan fungsi reftil: belajar menghafal,
meniru, guru sebagai pusat kekuasaan, pembelajar sebagai pelajar yang patuh dan pasif,
mengikuti rutin dan contoh yang di tetapkan oleh hierarki, system yang
digerakan oleh semangat
mempertahankan diri (takut akan kegagalan), tanpa perhatian pada perasaan dan
ikatan sosial dilingkungan pendidikan, tanpa usaha untuk mengajar murid cara berkreasi, memecahkan masalah dan berpikir sendiri.[41]
Dari kutipan di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa pembelajaran konvensional adalah
pembelajaran yang berorientasi pada guru dimana siswa hanya menerima saja apa yang dikatakan guru tanpa
berusaha sendiri atau mandiri. Hal tersebut dapat membuat siswa menjadi
pasif dalam belajar. Akibatnya konsep pelajaran tidak didapat oleh siswa secara
optimal.
Pembelajaran konvensional
yang dimaksud adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang dimulai dengan orientasi dan penyajian informasi yang
berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari, dilanjutkan dengan pemberian contoh soal yang diberikan oleh guru. Setelah itu
diadakan tanya jawab sampai akhirnya
guru merasa bahwa apa yang telah diajarkan dapat dimengerti oleh siswa. Terakhir guru memberikan tugas untuk dikerjakan dirumah.
Dalam
pembelajaran konvensional yang aktif adalah guru sehingga terjadi komunikasi
satu arah. Jadi dapat dikatakan bahwa pembelajaran konvensional lebih menitik
beratkan keaktifan guru daripada keaktifan siswa.
Pembelajaran
konvensional adalah pembelajaran pada zaman-zaman dahulu yang diterapkan oleh
guru-guru. Dimana dalam pembelajaran ini guru mengajarkan di depan kelas dengan
ceramah, menuliskan dipapan tulis atau mendikte dan siswa mencatat dibuku
catatannya masing-masing.
Menurut
Nasution pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Tujuan
tidak dirumuskan secara spesifik ke dalam kelakuan yang dapat diukur.
b.
Bahan
pelajaran diberikan kepada kelompok atau kelas secara keseluruhan tanpa
memperhatikan siswa secara individual.
c.
Bahan
pelajaran umumnya berbentuk ceramah, kuliah, tugas tertulis, dan media lain
menurut pertimbangan guru.
d. Berorientasi
pada kegiatan guru dan mengutamakan kegiatan mengajar
e.
Siswa
kebanyakan bersikap pasif mendengar uraian guru
f.
Semua
siswa harus belajar berdasarkan kecepatan guru mengajar
g.
Penguatan
umumnya diberikan setelah dilakukannya ulangan umum atau ujian
h.
Keberhasilan
belajar umumnya dinilai guru secara subyektif
i.
Pengajar umumnya sebagai penyebar dan penyalur
informasi utama
j.
Siswa biasanya mengikuti beberapa tes atau
ulangan mengenai bahan yang dipelajari dan berdasarkan angka hasil tes atau
ulangan itulah nilai rapor yang diisikan.[42]
Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang
diberikan dengan metode ceramah, guru menerangkan di depan kelas, dilanjutkan
dengan tanya jawab mengenai materi tersebut dan diakhiri dengan pemberian
Pekerjaan Rumah (PR)
8. Hasil
Belajar
Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa
setelah melakukan kegiatan belajar dan hasil dari tes belajar.
Ibrahim menyatakan bahwa:
Hasil belajar atau kompetensi siswa didefenisikan sebagai produk
belajar, keterampilan dan sikap yang tercermin di dalam perilaku sehari-hari. Produk mencakup serangkaian fakta, konsep,
teori, hukum, dan prinsip serta prosedur. Keterampilan terdiri dari
keterampilan berfikir, keterampilan menggunakan alat (psikomotor), keterampilan
sosial (keterampilan interpersonal), keterampilan proses (keterampilan
melakukan penelitian dan keterampilan menggunakan strategi belajar), maupun
keterampilan untuk belajar sepanjang hayatdan keterampilan hidup (life skills).
Sikap mencakup budi pekerti, etika dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.[43]
Dengan hasil belajar ini guru dapat mengetahui
pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Cara
kita mengetahui hasil belajar ini adalah dengan tes. Tes adalah alat atau
teknik penilaian yang sering digunakan oleh setiap guru. Dengan tes ini bisa
mengukur kemampuan peserta didik dalam pencapaian suatu tujuan tes berbentuk
angka.
Hasil
belajar dapat dikelompokan menjadi tiga (3) ranah yaitu ranah kognitif
(pikiran), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Ranah kognitif
adalah yang mencakup kegiatan mental (otak). Dalam kognitif terdapat enam
jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang
paling tinggi. Keenam jenjang tersebut adalah: pengetahuan/hafalan/ingatan,
pemahaman,penerapan, analisis sintesis, dan penilaian. Ranah afektif
dikelompokkan menjadi lima (5) kelompok yaitu: pengenalan/penerimaan, pemberian
respon, penghargaan terhadap nilai, pengorganisasian, pengalaman. Dan ranah
psikomotor menekankan pada keterampilan “neoro-mascular”
yaitu keterampilan yang bersangkutan dengan gerakan otot. Keenam tingkatan
tersebut adalah gerakan reflek, gerakan dasar, gerakan persepsi, gerakan
kemapuan fisik, gerakan terampil dan gerakan indah dan kreatif.
B. Penelitian
Relevan
Penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah
penelitian yang dilakukan oleh Fitri Yulia (UNP, 2008) yang berjudul “ Dampak Tutor Sebaya dalam Belajar
Kelompok Terhadap Aktivitas dan Hasil belajar Siswa Kelas X
SMAN 4 Solok Tahun
Pelajaran 2007/2008 “. Penelitian ini difokuskan pada aktivitas dan hasi
belajar matematika siswa, serta menggunakan dua instrumen penelitian yaitu tes
hasil belajar dan lembar observasi kelas. Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti
dengan Fitri Yulia adalah bahwa peneliti hanya memberikan LKS kepada kelas
eksperimen sedangkan Fitri Yulia memberikan LKS kepada kelas eksperimen dan
kelas kontrol.
C. Kerangka
Konseptual
Proses belajar mengajar di sekolah
berjalan dengan baik apabila guru dan siswa saling berinteraksi satu sama lain.
Dalam proses belajar mengajar guru
dapat memilih bantuan dalam proses
belajar. Salah satu bantuan yang bisa diterapkan di sekolah adalah bantuan
Tutor Sebaya, yang mana Tutor ini diambil dari kelompok siswa yang mempunyai
kemampuan akademik yang tinggi. Sehingga mereka dapat membantu dan membimbing
temannya yang kesulitan dalam memahami pelajaran matematika dan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
[1]
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula,
(Bandung:
AlvaBeta, 2004), h. 19
[2]
Erman Suherman, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: UPI,2003), h. 22
[3]
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula, (Bandung;
AlvaBeta) 2004 h. 50.
[4]
Sumardi Suryabrata , 2002: 43
[5]
Ibid., h. 10
[6]
Buku Pedoman Penelitian Skripsi
STAIN Prof. DR. H. Mahmud Yunus Batusangkar,
2004. h.14
[7] Sudjana, 1996, Metode Penelitian, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya), h. 166
[8]
Ronald, E. Walpole. 1993, Pengantar
Statistika, (Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka), h. 391 Edisi Ketiga
[9]
Ronald E. Walpole dan Raymond H Myers, 1995, Ilmu Peluang dan Statistika
untuk Insiyur dan Ilmuan, (Bandung:
ITB), h. 342 Edisi Keempat
[10]
Pratiknyo
Prawironegoro, Evaluasi Hasil Belajar Khusus Analisis Soal untuk Bidang
Studi matematika, (Jakarta:
1985), h. 11
[12] Pratiknyo Prawironegoro,
1985, Evaluasi Hasil Belajar Khusus Analisis Soal Bidang Studi
Matematika, (Jakarta: Dirjen Dikti P21. PTK), hal. 14
[14] Suharsimi Arikunto,2002, ProsedurPenilaian, (Jakarta: PT. Roneka Cipta), h. 109
[15] Sudjana , Metode Statistika. (Bandung:
2002)
[17] Nana Sudjana, 1996, Metode Penelitian, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya), h. 166
[18] Ibid, h. 249
[19] Ibid,
h.241
[20] Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar,
2008, Pengantar Statistika, (Jakarta: PT. Bumi Aksara), h. 325 Edisi
Kedua
[21] Salmeto, Belajar dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 1995), h. 2
[22] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar
Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1989), h. 28
[23] Salman-Affansi, 2009, Metoda
Pembelajaran, tersedia:
www.
Salman-Affansi. Com (9 Januari 2009)
[24] Erman Suherman dkk, Strategi
Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung : Universitas Pendidikan
Indonesia, 2003), h.17
[25] Opcit,.h. 31-32
[26] Muhammad Nur, 2005, Pembelajaran
Kooperatif, (Jakarta: Depdiknas), h. 7
[27]
Slavin, 1995, Cooperatif Learning, (New
York: Simon and Schutester Company), h. 6
[28]
Anita Lie, 2002, Cooperatif Learning, (Jakarta: PT. Gramedia Sarana Cipta), h. 30
[29]
Muslimin Ibrahim dkk, 2000, Pembelajaran Kooperatif, (Suarabaya: Universitas Negeri Surabaya- University
Press), h. 10
[30] Ibid,
h. 18
[31] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang
Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 42
[32]
Erman Suherman, op. cit, h.276
[33]
Ibid, h. 276
[34]
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta,
2006), h. 25
[35]
Ibid, h.26-27
[36]
Ibid,
[37]
TIM PPPG Matematika Yogyakarta, Penelitian Tindakan Kelas, (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003), h.16
[38] Sardiman A.M , Interaksi & Motivasi
Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006)
[39] Sardiman A.M , Ibid h. 103
[40] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar,
(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1987), h. 83
[41] Dave Meier, The Acccerelated Learning
(Hand Book), (Bandung: Kaifa, 1999), h. 84
[42] Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam
Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h. 209
[43] Muslimin Ibrahim, Assesmen
Berkelanjutan, (Surabaya: Unesa University Press, 2005), h.1





0 komentar:
Posting Komentar